PAPUA, SEMENTARA & SELAMANYA
Menginjakkan kaki di tanah Papua adalah impianku sejak tahun 1992 dan baru terwujud di tahun 2023. Sayangnya, harapan pulang membawa banyak kenangan indah yang ingin kuingat terus, malah duka dan doa ingin lupa yang kubawa.
It’s been 8 months, and GOD know how hard I’ve been trying to have faith that everything happened for a good reason, since GOD always give us nothing but the best. Dan dengan iman itu, aku coba mengumpulkan kenangan-kenangan baik versiku sendiri yang sedikit demi sedikit terpancing keluar oleh kebahagiaan teman-temanku yang masih saja terus terungkap sampai beberapa minggu sebelum aku menuliskan semuanya disini….. here in my kind of memory chest, where I can keep memories forever, and I never have to worry about losing them.
As usual, I choose writing to healing me from any sorrow, karena yang berat dari berduka adalah, hidup harus terus berjalan! Walaupun aku tidak ingin kemana-mana, melakukan apapun, bahkan rasanya mau balik ke momen ketika ajakan ke Papua itu datang, dimana seharusnya kujawab ‘tidak bisa’, karena aku seharusnya tidak meninggalkan Mamaku untuk waktu yang lama. Yes, nampaknya semua duka ini rasanya seperti hukuman untuk anak yang tidak berbakti kepada orang tua. Anak yang setengah mati berusaha mengurus Ibunya dengan baik selama 2,5 tahun, tapi tega meninggalkan Ibunya sebulan cuma untuk mengejar obsesi.
Rasanya mau menyalahkan Papaku yang menularkanku memuja banyak orang berkulit hitam seperti Muhammad Ali, Michael Jackson, Nelson Mandela, Michael Jordan, Mother Theresa, and so many more ketika aku masih usia TK-SD. Bahkan lagu yang paling sering Papaku nyanyikan ketika kami mulai remaja dan Dia merasa perlu menggungkapkan cintanya dengan lagu, adalah lagu “when you tell me that u love me” yang dinyanyikan oleh penyanyi perempuan berkulit hitam, Diana Ross.
Jadi gak usah heran kalau 16 July 1992, mataku langsung otomatis menangkap sosok remaja pria berkulit hitam keturunan Papua, who was looked like Denzel Washington, moved like Michael Jordan and sang like Lionel Richie. And since then, I love all about Papua, and dreamed about it, sampai akhirnya hari itu datang… seorang Bapak bilang, “Win, ke Papua Yuk!”.
----------
Perjalanan 38 hariku di salah satu tanah Papua, dimulai dengan kegiatan survey selama 6 hari yang kulakukan dengan sangat hati-hati dan penuh pertimbangan, walaupun tetap dengan ciri khas-ku yang nggak bisa jaga output kondisi hati di wajah. Bingung ya bingung, nyolot ya nyolot, senang ya senang. I’m the real open book. Everyone can read me anytime they want.
Entah kenapa, dari apa yang ditangkap panca inderaku dari sebelum berangkat, my heart start saying it is not going to be easy. Ada kondisi sosial, politik dan ekonomi yang baru sedikit tergambar, membuatku tidak nyaman, sehingga rasanya aku perlu kuda-kuda yang kuat untuk menghadapinya. Ada banyak doa dan persiapan sehat lahir batin, sebagai upaya menarik takdir baik. Ada persiapan amunisi dan pesan-pesan ke sana sini, sampai alarm 3x sehari untuk menjaga Mamaku dari jauh. Tapi sayangnya tetap ada ego yang kurang memperhitungkan apakah semuanya akan baik-baik saja atau tidak. But Thank GOD, HE made me choose a right person to accompany me.
Aku mengajukan syarat untuk berangkat bersama tim pilihanku. Seorang teman kerja yang tidak terlalu dekat, tapi aku tau karakternya baik dan profesional ketika bekerja sama. Kategori Perempuan jagoan yang kukagumi gerak-geriknya di dunia event. Pendiam, tegas, agak judes, manis, sederhana dan sejuta karakter lainnya yang gak ada di aku. Feeling-ku, kami akan saling melengkapi, like Yin Yang. And we did it! 5 hari survey menghasilkan keyakinan kalau aku bisa melalui puluhan hari kerja berat bersamanya.
Sesungguhnya aku punya 2 kandidat untuk menjadi partner utamaku ini. Keduanya kupilih karena pernah bekerja di pagelaran PON PAPUA 2021. Tapi secara karakter dan kemampuan, temanku dari Bandung inilah yang lebih memenangkan hatiku. Yes Bandung. Artinya kami jarang bertemu, tapi kesan baiknya begitu kuat.
Survey pun berjalan baik dengan segala kondisi dan
situasinya, karena kami sama-sama mengerahkan segala kemampuan beradaptasi.
Kami pun menyepakati beberapa rencana kedepannya mau gimana, termasuk perihal
harus pisah kamar, demi menjaga privacy dan memberi ruang untuk urusan pribadi.
Rasanya semua pertemanan perempuan butuh jarak menurutku. Perempuan punya potensi
bersinggungan, bosan dan drama yang lebih banyak dari Pria. Walaupun ini sesungguhnya terasa seperti potensiku pribadi aja sih. Sambil nulis, aku berasa ngaca!
Selain kesepakatan untuk kami dan tim kami nantinya, kami juga menyepakati beberapa hal dengan tim EO yang mendampingi kami untuk urusan adiministrasi di sana. We did our best in planning, tanpa sok tahu dan menebak-nebak apa yang akan terjadi. Yang jelas, kami yakin bisa melalui rintangan apapun bersama. Kami benar - benar definisi Perempuan kuat yang memperkuat satu sama lain. I keep thanking GOD for her existence in my life since then until now. Even once I had a trust issue with her, still she was one of the greatest treasure in my Papua journey.
----------
Tanah Papua di kepalaku dulu pertama kali bernama Irian Jaya, singkatan dari Ikut Republik Indonesia Anti-Netherland. Long story shorted, akhirnya namanya jadi Papua yang berasal dari bahasa melayu dengan arti rambut keriting, sebuah gambaran yang mengacu pada penampilan fisik suku-suku asli disana.
Pada tahun 2004, Papua dibagi menjadi dua provinsi oleh pemerintah Indonesia. Bagian timur tetap memakai nama Papua sedangkan bagian baratnya menjadi Irian Jaya Barat yang kemudian menjadi Provinsi Papua Barat. (source : Papua.go.id – Sekilas Papua). Kemudian dengan tujuan mempercepat meratanya pembangunan di Papua, maka Tanah Papua dibagi lagi menjadi 6 Provinsi, dan Provinsi yang aku dan tim kunjungi adalah Provinsi Terakhir yang disahkan oleh Pemerintah Negara kita tercinta ini.
Terakhir atau pertama, sama saja buatku, sama-sama Papua dan Indonesia paling timur, yang begitu memukau lewat film Papua pertama yang aku tonton, Denias, dari Alenia Pictures. Selain film itu, rasanya banyak sekali hal lain mengenai Papua yang menghampiri hidupku.
Pernah di suatu masa, di Taman Kanak-kanak tempat aku mengajar, ada Istri TNI yang menyekolahkan anak Perempuan asli Papua, yang wajahnya mirip teman Papuaku. Usia anak itu lebih pas menjadi cucu dibandingkan menjadi anak angkat, sehingga aku iseng bertanya, apakah boleh aku ambil anak itu, dan jawabannya boleh karena masih banyak anak yang bisa mereka angkat lagi dari Papua. Sayangnya, aku yang masih menumpang di rumah Mama, cukup tahu diri dan tidak beneran membawa anak itu pulang. Tapi di kepalaku terus menerus ada kata-kata, “I will, one day”.
Yes, I am that freaking in love with Papua. Saking freaking in love-nya, aku yang terlalu sering patah hati dalam hidup, berusaha tidak percaya kalau tawaran itu benar ada. Prosesnya sedang kujalani saat itu, tapi aku sibuk bersiap-siap untuk tidak jadi berangkat karena selalu ada saja kemungkinan seperti itu pikirku.
Menurut ilmu psikologi, memang ada jenis orang yang khawatir untuk merasakan terlalu bahagia karena mereka percaya bahwa sesuatu yang tragis akan segera terjadi kepadanya. Hal ini dikenal sebagai Cheropobia, and that’s what I had in me, since i do agree when someone said, “hidup adalah sekumpulan kekecewaan yang harus direlakan”. Terdengar sinis sama hidup ya kalimatnya? Tapi imho (in my humble opinion), kalau kita gak bersahabat sama duka atau kecewa, gimana caranya kita bisa mensyukuri suka dan bahagia? Sama aja kayak kita terpaksa menyesal bikin salah supaya kemudian tau bagaimana jadi benar. Bahkan pemahaman ini yang membuatku menuliskan cerita ini, karena sungguh bagaimana mungkin impian selama 30 tahun yang menjadi kenyataan, aku kutuk sebagai penyesalan?
I wish one day, i meet my Papua man, and tell him this story and said, “gara-gara kamu nih! ketemu yang mirip kamu hanya 3x dan sekejap, itupun di akhir-akhir hari event, tapi nyesel berangkatnya gak hilang-hilang”, sambil ketawa-ketawa, mengenang yang bisa dikenang. Well, don't blame me for my regret. Ada yang bilang, memang manusia butuh 6-7 bulan saja untuk menghilangkan luka, tapi butuh 6-7 tahun untuk lupa.
-----------------------
Akhirnya, hari-hari kolaborasi kami bersama tim lainnya pun tiba. Hari-hari yang melibatkan orang banyak, nama-nama besar dan seharusnya menjadi kebahagiaan banyak orang. Hari-hari dimana kami berusaha berinteraksi baik dengan semua pihak, secara internal dan external. Hari-hari dimana aku menjelma jadi manusia yang sekuat tenaga berusaha keras mengalah sama keadaan dan orang-orang disekitar, demi menjaga kewarasan dan menikmati tanah yang kurindukan itu.
Papua yang kami tinggali selama 30 harian itu, adalah provinsi yang sejauh mata memandang, lebih banyak pendatang daripada warga aslinya. Mungkin karena kami berada di kota dan kabupaten besarnya. Atau mungkin karena kondisi percepatan pembangunan mengharuskan banyak pendatang hadir dan membantu warga asli membangun provinsi tersebut. Entahlah. Kondisi politik, social dan ekonomi disana rasanya terlalu rumit untuk dicerna, dan aku pilih tidak memikirkan hal itu. As event manager, aku fokus dengan bagaimana menggunakan sumber daya yang ada untuk mewujudkan hasil yang maksimal, dan tetap berusaha bersenang-senang.
Aku sibuk menata pikiran untuk menghadapi social case internal-ku sendiri. Dimana ternyata ada tim yang sering overpower, tim yang ternyata tidak menguasai pekerjaannya, tim yang terganggu masalah keluarga dan akhirnya harus pulang setelah acara pembuka, tim yang over exciting sehingga tidak fokus dan lain sebagainya. Belum lagi tim lokal yang berbeda culture kerja dan pemahaman bahasa Indonesianya.
Economic case, tentu saja ini musuhnya semua pekerja event dengan otak kreatif kita. Negosiasi di wilayah ini selalu jadi kendala buatku yang terbiasa jadi anak dengan uang jajan yang cukup besar, sehingga tidak pernah harus berhitung atau khawatir uangku tidak cukup. Se-simple itu alasanku tidak mahir di bidang ini. Ada sesuatu yang sulit kumengerti dari persoalan pengambilan keputusan di wilayah ini, dan mentok disitu. Tidak ada jembatan yang mampu dibangun untuk aku dan kondisi keuangan untuk ketemu ditengah. Pilihannya hanya salah satu harus mengalah, tapi ketika tim-ku mau berjuang, waktu dan tempat aku persilahkan. So far, we did well good.
Politic case, rasanya lebih bisa kumengerti dari masalah ekonomi. And thanks GOD-nya, memang peranku hanya menonton dan
memahami, kemudian mengikuti arus saja. Mungkin si anak tengah ini memang
terbiasa jadi penonton dan play safe. Sehingga drama-drama yang terjadi pun
tidak pernah mengusik pikiran dan gerakku sampai berhasil menuntaskan tugasku.
Hanya saja, pelajaran yang paling penting dari case ini adalah, don’t trust
people in this area.
Well, it was just my humble opinion anyway. Belum tentu hasil olah pikirku ini
benar, karena aku bukan manusia pintar. Yang jelas, punya kamar sendiri lumayan
bikin aku punya waktu untuk mikir dan sibuk benahin apa yang bisa dibenahin,
dari mulai yang ada di kepala, hati sampai yang ada di checklist. Kalau mentok ada yang gak bisa dibenahin, ya ditangisin aja sepuas hati, mumpung di kamar sendiri.
To face the heavy and long road I had, kukembalikan kepalaku ke basic
thinking-ku sebagai manusia saja, bukan sebagai leader. "See what
you can do for others, not just what they can do for you". That’s what
my Papa and a sister from high school taught me.
Kukerjakan apa yang bisa kukerjakan, mengalah di banyak perdebatan atau pilihan, membantu apa yang bisa kubantu, dan berusaha semaksimal mungkin membuat orang-orang di sekitarku bahagia. Lagipula Tuhan sudah terlalu baik memberikanku tempat tinggal yang cukup nyaman dan makanan yang selalu enak, walaupun konsep pemilihannya tetap tahu diri.
Syukurku tak terhingga untuk supir rental mobil yang istimewa, yang sangat membantu kami mencari apapun. Supir dengan masakan Ibu Mertuanya yang boleh aku kritik sehingga kami bisa merasakan masakan rumah. Supir yang mendadak manis di perjalanan pulangku menuju bandara, berdua dengannya. Dia banyak berpesan di momen terakhir kami, tapi pesannya sudah terlambat untuk perjalananku disana. Kuterima pesannya untuk masa depan, dan pujiannya yang tak diduga-duga, selalu kujadikan semangat jika aku merasa lagi tidak baik, sampai saat ini. Bayanganku, orang se-kaku dan se-judes dia harusnya butuh energi besar untuk memuji. Tidak percuma rasanya aku menahan kantuk selama perjalanan Shubuh hari itu.
Kenangan manis hasil keberanianku berkenalan dan berinteraksi dengan vendor-vendor dan talent-talent yang baik hati, yang sangat amat jarang kulakukan di event lain kecuali terpaksa, rasanya juga mau kutulis satu persatu juga disini, suatu hari nanti.
Salah satunya, aksi manis beberapa vendor dan talent, yang mencari dan mendatangiku setelah GR atau sebelum acara penutupan dimulai, hanya karena khawatir susah menemuiku ketika acara sudah mulai atau di akhir acara. Their sweet farewell words ala closing gantung MC tersebut, sungguh membuatku kehabisan kata, menahan nangis, menahan teriak kegirangan, dan seperti biasa aku cuma bisa balas seadanya. Basi memang bahasaku, tapi semoga yang dihatiku sampai ke hati mereka.
Lucky me again, aku berhasil keliling FOH di akhir acara untuk berterima kasih, dengan mengajak tim produksi dan Show Director-ku karena gak cukup percaya diri untuk keliling sendirian. Saat itu rasanya mau peluk sound engineer di FOH yang kurang tidur karena event-ku, tapi gak berani.
Sungguh tiap ingat wajah-wajah mereka, hatiku berdoa mereka sehat terus dan diberi kebahagiaan terus dimanapun mereka berada. Aaahh, nulis segini aja mataku basah.
And more, I think I got new friends that I am so happy that we can see each other’s life in Instagram, after the event. Paling nggak, dari seratus yang harusnya kukenal dengan baik, masih ada sekitar 5 orang yang masih sahut-sahutan di DM dan saling like postingan masing-masing. Mereka dan 5 orang tim event yang aku ajak ke tanah Papua, sekarang menjadi bagian penting hidupku dan kupersilahkan masuk ke ranah yang sangat pribadi untukku, my social media.
----------
"Menjadi Dewasa di Tanah Papua" tadinya kusiapkan untuk menjadi judul tulisan ini. Karena ajaibnya, sebagaimana juga hebatnya karakter buruk kami keluar di suatu momen, dalam waktu sesingkat-singkatnya karakter tersebut hilang karena faktor internal si empunya karakter, atau ada saja yang menjadi pahlawan dan meredakan ledakan yang diakibatkan.
Beberapa kali, tentu saja kami berselisih paham. Namun rasanya itu semua adalah jenis konflik yang diperlukan. Semacam necessary evil agar kami saling memahami satu sama lain.
Menjadi dewasa disana buatku adalah perkara mengamalkan kata-kata “love shall set you free”. Tidak semua hal harus berjalan sesuai yang kumau. Misalnya, seharusnya aku berhubungan sama semua jenis client dan mitranya untuk memastikan semua urusan beres, maka disana dengan amalan tsb, aku berusaha mempercayai timku untuk melakukan kordinasi tanpa kudampingin. Hasilnya, they brought out their best dan efeknya secara gak sadar jadi sangat bagus untukku yang sesungguhnya malas ketemu orang. Yeeesssss, sometimes you just have to let a lot of things goes in other’s way to reduce your stress.
Selain menjadi dewasa, some of them said that I changed into a very caring person. But, do you really want to know why I take care of people? Honestly, because it feels like I’m fixing a part of me that needed someone to take care of, but no one really cared. I just don’t want people to feel the same, while they were with me.
After the journey, my good and best friends came up with a question, "you must be very happy in Papua, don't you?”. I said, “Overall No!”, but simply because I don’t have enough time to do what I want to do, and even my 3 times alarm to call Mom doesn’t works as planned. I feel like I didn’t do good enough for Mom and the people in the journey. Mungkin karenanya, hukuman terhadap lahir dan batinku berdatangan terus setelahnya, dan kuharap berhenti disini dan setelah ini. Setelah semua duka kupastikan berubah menjadi puji syukur kepada Tuhan, atas nikmat teman-teman baru yang masih berbalas kasih sampai hari ini.
----------
“Dear my team,
I had enough to thank you and say sorry to all of you. So, in this special moment, I would like to tell you that… It's fascinating how different people see different sides of us. But what's most important is who we are to ourselves, shaped by our own values and experiences. Please take time to understand what makes you feel most authentically you. For me, each of you is special, and you were the best! If I can turn back times, I will choose all of you again!
Wahai si paling sabar yang selalu menungguku, pasang bahu dan lengannya untuk kujadikan pegangan ketika menemui anak tangga, wahai Perempuan manis dan bijak yang paling sadar ketika aku mulai kehilangan focus dan butuh waktu untuk menangis, wahai Perempuan penceria suasana dengan segala keriwehannya tapi selalu jadi adik baik penjaga hatiku sehingga berhasil mengatasi keriwehannya sendiri, wahai anak kecil yang lagi belajar dewasa dan cari jati diri dengan segala kerempongannya yang kutau selalu bisa kuandalkan, dan wahai si paling cepat pulang tapi berhasil menyelesaikan masalahku di akhir perjalanan ini…. kalian terlalu amat sangat istimewa untuk tidak menjelma menjadi rangkaian kata dari jari-jariku ini.
Terima kasih sudah menemaniku menjalani hari-hari paling
penuh tantangan di perjalanan event-ku.
Terima kasih sudah membantuku menghadapi ratusan manusia that we were dealing
with selama bekerja disana.
Terima kasih sudah terlatih memaafkan si cerewet dan galak yang nadanya selalu mengintimidasi ini.
Dan terima kasih sudah menemaniku mencerna segala rasa yang mebuatku tidak
nyaman dari awal hingga akhir, bahkan setelahnya…. sampai lahirlah tulisan ini. Itu sudah!
Cheers to our dinner ikan bakar di tendanya Bude, our kopi Point Indomaret, our trying to enjoy Janji Jiwa stores, our rantang catering, our choki-choki yang keras, our chiki balls, our singing in the car, our no holiday days, and everything we had.
Perjalanan kita yang SEMENTARA, akan menjadi kenangan baik dan pembelajaran yang sangat berharga untukku SELAMANYA.”
---
Note :
Judul tulisan ini terinspirasi dari judul buku yang kubeli ditemani oleh my
lovely driver & tim yang dari awal presentasi proposal menemani, di Toko
Buku Gramedia satu-satunya di tanah Papua yang kami singgahi, yang berjudul :
“Sementara, Selamanya.”, Original Screenplay by Ika Natassa.
Kak Wina tulisannya asik. Menulis dengan hati. Kalau boleh kasih saran, supaya tidak terlalu panjang, tulisannya bisa dipecah menjadi beberapa tulisan dan dipertajam masing-masing topiknya.
ReplyDeletewow.. sudah mampir rupanya. Thank you advice-nya Kak Dhantiiiiii ๐๐พ๐
Delete