THE ATTACHMENT

In His interview with Karan Johar, SRK (Shah Rukh Khan) once said :

“I’m scared of attachments, because I believe every attachment that I have will finally break my heart or leave me. The only time I cry is when I lose the people that I love through life and death, or just because they are not attached to me anymore.”

As one who always loves to see Him in His deep thoughts and sad movies, finally I got the answer why he always looks like a “so close but far away” person, even in his love scenes. I always love to investigate His kind of eyes, wondering why somehow it looks so sad and create my own answer or even the story behind, until I find the truth. Yes, that’s me! Someone said, I can even make a serial movie scenario from one single question in my head. And lately my head has been curious to know about the attachment that He mentioned.

Look at what the dictionary said about attachment, which I used to know as a file that we sent as an extra part in email. Attachment also means bond, closeness, devotion, loyalty, love for, affection for, friendship, intimacy, and so many more.  Guess attachment is one of the words that have evolved into so many meanings, or it's just me who never opened the dictionary since I was teens. And for this reason, I will continue this writing mixed with my mother language, to keep off from the incorrect use of words.

My concern about the attachment started with me and a friend yang tiba-tiba dalam sebuah percakapan pagi di WhatsApp, merasa something changed after our long working trip. Kami merasa gagal moved on dan kehilangan moment sharing and caring each other all day long, sepulangnya kami dari perjalanan event selama 6+32 hari untukku dan 5+27 hari untuknya. Dia tidak bicara detail mengenai apa yang dia rasa, tapi dia membenarkan kalau rasanya kami begitu intens berkomunikasi sepanjang hari, walaupun sudah sengaja pisah kamar biar ada privacy, dan kehilangan momen itu ketika kembali ke rumah masing-masing. Not because we’re so damn lovely to each other, tapi entah kenapa di sebuah perjalanan, rasanya siapapun tiba-tiba bisa menjadi pendengar dan keluarga yang lebih baik karena situasi dan kondisi, compares to what we have in real life.

What happen after that morning is like usually happen in current life, that our social media algorithm working so fast to shows us a lot of stories, book review, and quotes about relationships, personal communications, love story, etc., just like a best friend who prefer to talk more than listen…. until I found the word of the attachment being everywhere and it made me hardly think!

“BANTING PINTU”

All posts about attachment, written or said by a person, made me realize that I have an attachment issue with people and left me longing for few best friends, life brother and sister, working partner, and even the most special one, my Papa. The only attachment which leaves nothing behind and became the first puzzle to write this down, was my ex special friend.

My ex special friend once said, “Kalau mau keluar, jangan banting pintu”. Lamaaaaaaa banget aku cerna kalimatnya, karena memang orang pintar ini sering banget left me with a big question, yang harus dicerna sendiri. Sampai karena gak sanggup mencerna, kemudian kutanya apa maksudnya, dan jawabannya, “kalau gak mau berhubungan dengan seseorang lagi, gak usah cari gara-gara supaya dibenci atau membenci, dan kemudian block semua akses berhubungan serta merta. Kalau gak mau pamit, ya paling nggak pintunya jangan dibanting”. And I still learned to understand his words, gagal dipraktekin dengan dalih sering lupa atau nyalahin kepala atau hati yang tetap memilih “banting pintu”.

“Banting pintu” versiku memang berbagai tindakan yang akan menutup kemungkinan berkomunikasi lagi, because I want my peace of mind. I just don't want to get triggered repeatedly seeing people updates, checking whether they're online or offline 100 times in a day, waiting for that one notification from their side, getting desperate at one point in a day, tired of pleasing people or begging them again to sort it out and again hearing no or getting silent treatment from people.

Pertama kali “banting pintu” seingatku ke Papa dan lanjut ke beberapa teman jaman kuliah, dengan se-simple menghindari pertemuan dan kalau ketemu pun gak akan mau menyapa atau disapa, and it was me before my 20. Sementara pesan tersebut hadir 13 years ago, on my early 30, right after I told Him that i just did “banting pintu” to a very nice brother. He was sounds so cares and protects, mungkin karena sering "dibantingin pintu", dan gak mau orang lain ngerasain hal yang sama, or memang segitu pedulinya supaya aku gak jadi orang jahat lagi. Well, dia gagal, karena bukan hanya si Mas itu yang aku bantingin pintu, but then there were so many and some now end up with a beautiful restart, some back to ordinary relationships, and some end up with deep remorse in me.

Here you go few stories about my regretful attachment yang kuakhiri dengan “banting pintu”:

1. Si Mas

Si Mas ini kutemui di berkali-kali event di luar kota and he was my working partner who became like a big brother for years. The way he talked to me, treated me, kept his eye on me and took care of me, lama-lama terasa beda dan bikin nyandu, walaupun kita seringan LDR daripada event bareng. Bahkan saking dia merhatiin banget, dia selalu tau dimana aku berada kalau kita lagi ada di kota yang sama. Aku pernah janjian sama bestie kerjaku dari Jakarta, untuk kabur diam-diam alias ngumpet. Terus bestie-ku stand by di venue event. Kebetulan venue-nya di mall besar and it has a lot of places to hide me, until my bestie called me and reported that someone asked Him about me, and he answered correctly. Sumpah capek banget itu menyusun strategi dan cari tempat ngumpetnya padahal. He always can find me!

Once, His team ke Jakarta dan ketemuanlah kita. Dia cerita kalau dia udah kayak adik Perempuan buat si Mas ini, dan selalu message-nya yang paling cepat dan selalu dibalas dibanding yang lain. Lalu, dia iseng foto kami and send it to Him. Si Mas gak bales chat dia, but text me, “sehat kan? Ini aku dapat foto si A sama kamu”. Funny thing was, cuma dia yang tahan tetap pakai aku kamu, walaupun kubalas dengan gue lu, dan message temanku gak dibalas sampai 2 hari kemudian dia pulang ke kotanya.

And one more once, in another event, sudah jam 4 sore and I haven’t eaten anything since I woke up. He called me to come to the food court and lied to me kalau aku dipanggil client. Sampai food court, sudah ada berbagai makanan dan dia dengan galaknya suruh aku duduk dan makan, start with my favourite one, bubur ayam. Katanya biar lambungku gak kaget, padahal aku tau kalau dia tau banget aku malas ngunyah. Aku makan, lalu HP-ku bunyi and it was my client. Dia ambil HP-ku, make it silent and said, “makan aja! client-mu gak urus kamu kalau kamu sakit!”. Lalu kebayang dong apa jadinya si pisces sensitif ini? Makan sambil menahan gemuruh mau hujan!

Masih ada ratusan cerita lainnya kayaknya, dan walaupun pintunya kubanting berkali-kali dan sangat kencang, kami tetap jadi kakak adik pada saat bertemu kembali, sampai hanya kepadanya aku dengan santai bercerita tentang kesejuta kalinya aku berusaha nurunin berat badan, karena dia terlanjur mendengarkan dengan baik kisah2 dietku yang gagal terus sepanjang masa.

2. Si Dimana

Si Dimana ini senang banget kalau ditelpon atau di-chat dan ditanya “Dimana?”. Menurut dia, itu adalah pertanyaan khas Ibunya ke dia, dan dia gak menyangka ada yang nyamain. Walaupun sejuta kali kubahas kalau nanya dimana adalah kebiasaanku yang merasa perlu tau dulu dimana dan sedang apa orang yang mau kuajak bicara. Takutnya lagi tidak dalam kondisi yang pas untuk diajak bicara.

Alkisah, Si Dimana ini berbulan-bulan ikut aku roadshow event di 4 kota, dan it was out of town journey-nya pertama kali dan buat dia perjalanan kami berkesan banget.

Versiku, saking berkesannya aku jadi punya adik yang bawain tas dan barang-barang  lainnya biar aku gak bawa apa-apa, memastikan event-ku yang mana aja baik-baik saja walaupun dia gak ikutan, kirim bubur ayam kalau dia tau aku dimana dan akan lewat, kirim air rebusan cacing yang tentu saja gak kuminum ketika aku gejala thypus dan nge-cek ke temanku yang lagi event bareng berkali-kali apa kabarku.

Yang special lainnya adalah jemputannya. In between our daily chat, kalau dia tau dimana keberadaanku di malam hari, maka dia pasti mendekat, menunggu entah dimana, jemput dengan motor bututnya, dan antar sampai ke deretan taxi yang dia bisa cek satu2 mana yang gak ngantuk dan searah dengan rumahku. Dan hebatnya, He makes me feel aman ditunggu, gak ada rasa gak enak, dan tidur nyenyak di perjalanan pulang, karena driver-nya di-brief and sometimes dibeliin kopi.

Pernah suatu hari aku mau berangkat event ke ujung Jakarta, he texted me dan tanya aku dimana, dan kujawab masih di kantor EO-nya. Dia rupanya nyamperin tapi gak bilang, dan pas dia sampai, aku udah pergi. Dia telpon dan tanya boleh nyusul apa nggak, dan minta supirnya jalan pelan-pelan. And he made it! Mobilnya kekejar dan dia ternyata bawain beberapa kantong kerupuk ikan. Karena gak sempat said anything, he texted me and said, kalau dia beli kerupuk itu di lampu merah dan yang jual Tuna Netra dan dia beli banyak untuk di rumah juga karena dia tau kalau aku jadi dia pasti akan melakukan hal serupa. Huuuu.. nangis nih ngetiknya. Dulu baca teks-nya biasa aja padahal.

The most special that i can remember, dia tiba-tiba sudah stand by dengan motornya dan sudah bawa tasku yang diambil dari ruang logistic event, terus telpon temannya yang sedang didekatku dan minta temannya untuk antar aku sampai gate venue event, dimana dia berada. Dia berlaku demikian, karena dia tau aku sedang bingung pilih stay running the event, atau samperin sahabat SMA-ku yang kehilangan Ibunya. Yes, segitu dekatnya kami, sampai dia pernah aku minta pinjam perlengkapan dapur untuk event, ke rumah sahabatku itu. Karena rumahnya jauh, dan dia tau aku gak biasa naik motor, maka sepanjang jalan dia sibuk nanya aku capek apa nggak, dan berhenti 3x untuk kasih aku istirahat dan beliin minuman dingin. Sampai di rumah sahabatku, aku langsung masuk ke dalam dan gak perhatiin dia. It was around 4 PM, and when I came out from the house to see the other friends at 9 PM, he was still there, in his motorcycle. Aku menghampiri dia dan kutanya kenapa gak pulang, katanya takut aku susah cari taxi. Dan akhirnya aku bilang aku gak mungkin pulang ninggalin sahabatku, baru kemudian dia pulang.

I think he was my best little brother, the only one I trusted to take me anywhere dengan motor bututnya until I did “banting pintu” to him, then we ended up with only lebaran greeting every year until he got married 2 years ago.

3. My Batak Sister

Dia lah si paling tau aku. She knows about my love language and tells people about it, so people can make me happy. Dia tau semua kisah sampai the most disgusting one. Dan dia pemegang raport merahku dari awal masuk dunia event organizer dan dunia kerja kantoran.

Rasanya kalau diketik kisah special perjalanan hidupku dengannya dari tahun 2005, akan sangat panjang dan bikin nangis darah. Sebelum perjalanan bikin film dokumenter yang memisahkan kami, di malam takbiran ketika kakakku bertugas jaga malam di RS, dia menemaniku bebersih rumah dan menikmati berbagai kiriman ketupat dan teman-temannya. Sungguh malam takbiran tak terlupakan, karena kami beda agama. Once aku juga pernah ke Gerejanya untuk antar kue di malam Natal, tapi memang acara Gereja sudah selesai sehingga hanya ketemu penjaga dan diambil keesokan harinya. Penjaga Gereja pun sudah biasa melihat kami muncul di sekitarnya berdua.

Dia si pemberani inilah yang ngajarin aku untuk berani makan sendiri, work from cafe sendiri, kerja keluar kota sendiri, bahkan nonton konser sendiri. Dia juga yang kick my ass kalau malas2an di waktu senggang kami di luar kota. Walaupun dia lebih sering nyerah tapi dia banyak berhasil, while my other friends gak ada yang berhasil ngajak seorang wina jalan-jalan.

Di urusan saling mengurus, nampaknya saham kami 50-50. Kehadiran sama-sama menjadi love language kami yang utama. Paling romantisnya kami ya cuma saling balas tulisan di blog kami. Dan untuk urusan kerja, tentu saja she was the helpful one karena dia lebih pintar, lebih muda 5 tahun dan lebih berenergi

Dia si paling dekat ini, punya banyak banget teman yang terkadang bikin hatiku kayak naik roller coaster, kadang merasa aman, kadang merasa diacak2, sampai ku dengar orang lain cerita that she talked bad about me. Patah hati banget rasanya, karena cintaku bertepuk sebelah tangan, dan akhirnya aku “banting pintu”, tapi kemudian sekarang menyesal, karena kurasa  banyakan salahku ke dia dibanding salahnya yang baru sekali kutemukan.

Jangan tanya berapa kali aku minta maaf, bahkan menawarkan apa saja termasuk tas kesayanganku yang dia tunggu2 diwariskan pun dicuekin. Saking kenal aku si pemberi segalanya ke adik kandungku, dia bilangnya, “nanti kalau lu beli tas baru, ini warisin ke gue yah”. Dia tau banget aku selalu hanya punya 2 tas, 1 selempang yang tumben pada saat itu bercorak dan berwarna, dan 1 ransel yang harus hitam. Jadi, harus beli baru kalau mau kasih ke orang. In this case, the best thing i did was learn to stop fighting for someone who was okay with losing me.

She was my biggest loss, probably in my best friendship journey. But maybe she was never really mine from the very first time.

All I can say about us is, If the affection is real, I’ll see her again. Maybe in years from now, and at some points we’ll connect again, and next time we’ll do it right. But for now, let’s hang on to being strangers with each other’s feelings.

-----

Ternyata rasanya perih banget mengingat-ingat kehilangan, jadi aku berhenti di 3 kisah ini saja. Ada banyak kisah sejenis, sampai pernah ada my Batak brother yang selalu diam, tapi akhirnya bisa ketik teks panjang banget mengingatkan aku kalau dia pernah sangat sakit karena bahasa marahku ke dia dan pilih memaafkanku once. Dengan caranya dia mengancamku, kalau jangan sampai yang kedua kali tidak bisa dia maafkan. Untungnya aku cepat sadar dan buka lagi pintu yang sudah kubanting, karena kudengar teriakan kerasnya memanggil aku kembali, dibantu malaikat yang berbisik, “Hey, jarang-jarang ada yang manggil balik sekeras itu. Balik gih!”. Dan beberapa minggu lalu kami ketemu, spontan berpelukan saking rindunya, dimana bertahun-tahun kami jadi partner kerja, we never did more than high five.

Not just from partner and friend zone, but I have the same kind of story with my 3 best users in a year, 2 years ago. Aneh ya? Dikasih kerjaan kok bertingkah! And after those moment yang dipicu dari kejadian playing victim, rasanya kesabaranku menipis dan si malas membela diri ini akhirnya meledak-ledak dan melukai banyak orang di sekitar, sampai after a year, I go to psikolog to check what was wrong with me. I don’t want to be worse and hurt people again. Diagnosa dokter adalah, “emberku penuh”. Jadi ketika ada tekanan di ember tersebut, isinya keluar berupa muncratan hebat yang tidak siap diterima orang lain. Sedihnya, tanpa ember penuh aja rasanya aku udah banyak nyakitin orang dengan 'lidah iblisku' dan ‘darah tinggiku’. Gak kebayang nasib orang disekitarku pada saat itu. Belum lagi kebiasaan “banting pintu”-ku.

Kata Dokter, obatnya adalah self-loved! And my idea of self-love at that time was to stop being caring to people. Hasilnya pada masa itu, aku merasa dilihat jahat ketika berhenti peduli, aku dilihat ego dan keras hati ketika aku menjauh dan pergi. Rasanya aku mau bilang ke mereka, give me a break! Aku kan juga pernah baik dan memaafkan kesalahan orang, kenapa gak boleh gantian?

Jawabannya, “semua orang bisa hadir karena kelebihanmu, namun tak semua sanggup bertahan setelah tahu kekuranganmu” (Najwa Shihab)

FINDING NEMO

Before I found the ‘attachment’ word and the meaning, I thought I’m just a girl who often ghosts a guy because I have feelings for him when I knew that I shouldn't. So, to stop myself from liking him, I’ll leave. Bahkan, jaman kuliah, kalau aku berhasil diet dan ada yang naksir, I’ll eat a lot and get back to the weight that someone would never fall in love with.

When it comes to a girl or a friend, working partner, or family, I just think that I love them so much, but they don’t love me the same. And most likely, I’ve become annoying to them, beyond my control and did something to hurt them before they hurt me. Ada behavior sejenis itu ternyata di dunia kejiwaan ini, dan namanya adalah balas dendam!

It was not just about love and a broken heart as I thought. It’s about how I get too attached to people, that finally makes me afraid of losing them, and feel the pain like I feel when Papa marries his new wife, or my special friend find a better person than me, and so many other people in my life who have their choice after me, or after time when our relationship goes wrong.  Even se-simple kehilangan orang yang tiba-tiba sibuk dan intensitas perhatiannya berkurang pun will make me act like a broken one dan akhirnya balas dendam. Dan rasanya aku mau menyalahkan zodiac-ku untuk sifat pendendamku ini.

I really thought love was attachment, and when you can’t be attached, then there is no love, until I found this in my Instagram explorer:

@vexking captured that:

Attachment says:

I need you, and I want you.

Love says:

I am me, you are you, and I enjoy sharing this space, where love lives, with you. I will not make my emotions your responsibility. I will support your expansion as I do my own. And I remain curious about you and the development of our connection.

Rasanya ketampar-tampar sampai perih. Dan sebagai orang yang ngakunya learned about the true love from Michael Jackson, Mother Theresa, and Chicken Soup for the Soul book, I thank GOD for some of good ending di cerita “banting pintu”-ku, yang ternyata penyebabnya adalah secara gak sengaja I enjoy the attachment, not the love.

Dan setelah banyak baca betapa buruknya efek feeling attached, I found that Buddha said, “The root of suffering is attachment”. Betapa kita bisa merasa sebegitu terikatnya dengan orang lain, sehingga ketika ikatannya lepas, kita melemah sebagai pribadi.

Dari hidup yang sudah hampir separuh abad ini pun, I do realize that life would always present the right people for every moment in my life. Ketika momennya ganti, orangnya juga ganti, itu wajar dan kurasa harus.

Sebagai pembelaan dan penenang hatiku sendiri, let me say that I have no hatred in my heart for people yang kubantingin pintu.  Sometimes It's just that I want to focus on myself. I want myself back. I want myself to be truly happy again, free from anxiety and stress, living life like a kid again who is free from any fears and who is completely involved in my present life. I've accepted that maybe those beautiful relationships were not meant to be forever and it's okay. Every story doesn't always need to have a happy ending. Some stories end so that we can learn and make some happy beginnings. Bukan begitu katanya?

Pembelaan kedua adalah, I don't walk away to teach people a lesson kok. Dendamku juga biasanya kulampiaskan dalam bentuk dimana akulah si jahat.  I walked away because I learned mine, and sometimes I wish that they would understand me.  I'd rather adjust my life to their absence than adjust my boundaries to accommodate their disrespect, misunderstood, dan segala hal yang kurasa tidak bisa kuterima dengan baik.

It's been weeks since I learned about it. I read a lot and watch movies about it. And it’s all coming down to the fact that, “The only way of truly letting someone go is first to acknowledge and accept that you’re attached, but then understand the reason why you’re attached, what is that person giving you or providing that you will miss once they’re gone, and whether is love, or acceptance, or respect or validation. Whatever it is, if you’re struggling to let it go, it’s because you don’t have it within yourself and there will be a lack of it once they’re gone, and the you’re realize that it’s not the person that you will miss, it’s the feeling, and if you work on you and if you work on that lack of again, love or acceptance or validation, you will come to terms with the fact that the purpose of that person was to make you realize that you have to work on those things and help you come back to yourself and grow but then they had to leave…”

Lupa deh mencatat nama yang bicara sekencang ini dan menamparku keras, yang kuingat ini adalah jawaban dari adegan talkshow di salah satu tontonanku. Pada saat itu, aku begitu menggebu-gebu mengulang adegannya berkali-kali sampai tercatat semua kata-katanya, kemudian aku terdiam lama dalam sesak dan gemuruh, sampai videonya berganti dengan video lain, dan aku kemudian mencari tontonan yang mengundang tawa untuk mengusir gemuruh. Begitu terus yang terjadi setiap malam selama aku mencari kenapa kata attachment lebih mengerikan dari virus Covid 19 untukku.

I also found that, keterikatanku dengan banyak orang terasa sebegitunya, sampai aku merasa berhak melakukan apa saja, bahkan secara sadar melukai orang lain. And a lot says that was what unhappy people did. Karena katanya, seseorang yang mencintai dirinya sendiri dan merasa bahagia atas dirinya, tidak akan membenci dan menyakiti orang lain. Orang yang tidak bahagia, akan kecanduan dengan kebahagiaan yang diakibatkan kehadiran orang lain. Dan ternyata memang separah itu kondisiku.

LOVE IS ALWAYS THE ANSWER

Ada juga yang kupikir harusnya gak pergi apapun yang terjadi, karena harusnya they know me so well dengan segala keanehanku yang seenaknya datang dan pergi, dan sering meluapkan emosi yang sulit dimengerti. Tapi mereka yang kehadiran atau kepergiannya ninggalin luka hebat, ternyata justru punya peran paling besar dalam perubahan hidupku. Mereka sekarang kuanggap sebagai malaikat yang dititipi tugas dan tujuan paling penting di hidupku, karena dari mereka aku jadi belajar banyak hal.

Ada satu kakak terbaik di hidupku yang rasanya semakin hari semakin terasa jauh dan sulit kudapatkan lagi perhatiannya. Ternyata dia gak kemana-mana, dia selalu bisa kudatangi kalau waktunya pas dan dia tidak ada acara keluarga yang aku gak bisa ikut. Seringnya malah aku ikut di banyak acara keluarganya. Dia terasa jauh ternyata hanya karena skala prioritasnya sudah berbeda. Dia sudah bahagia dengan dirinya yang merasa cukup dengan keluarganya. Orang lain dianggapnya bonus yang boleh datang boleh tidak. Rasanya itu bisa jadi resep terbaikku saat ini in my journey to be happy with myself and detach from people.

Apart from acquainting myself with the form of love for myself, and a love that is worth fighting for, this movie dialogue fulfills my heart of lots of different kinds of love:

Kaira:   

Is there such a thing as a perfect relationship? Like just one special relationship

Doctor:

Why just that one special relationship? Life has many special relationships. Different special relationships for different emotions, like special musical relationship with someone who shares our musical taste, or the special let’s get coffee together relationship, perfect to have coffee but not anything else, and special gossip relationship with whom u can, or the special intellectual relationship for all those perfect bookish discussions. There are so many different special relationships. This romantic relationship is just one of them. To put the pressure of all relationships on just one relationship, is a bit unfair.

(Dear Zindagi Movie)

Sungguh tidak terbantahkan jawabannya from any kind of love meaning and perspective! So instead of having an attachment, we should choose to have simple love called a special relationship.

In this detachment from attachment journey, I found that self-love also means to always be ready to survive alone. Some people suddenly change, today you’re important to them, tomorrow you’re nothing to them. Everything could be changing in the blink of an eye.

Semua orang pasti akan menyakiti kita, tapi ada orang-orang yang memang diciptakan untuk kita tidak menyerah dengan mereka. I still have a lot I guess, my kakak terbaik yang barusan kuceritakan lengkap dengan keluarganya, some BFF from high school, few working partners, and my new bestie. Not more than 20 people nampaknya. Tapi cukup untuk jadi dapur untuk aku coba resep “love shall set people free”.

I also will keep in mind what should happen in my present and future special relationship, thriving together and not dependent but interwoven. In relationships, we should add to each other's happiness, fostering healthy independence and unity. Together or apart, we must still be happy.

-----

I will never ever regret the love I gave to anyone. If someone can't return my love, it is more to do with them. Only a rare and special heart that have a courage to love me again, completely dengan segala keanehan yang disebabkan oleh kisah masa lalu, rasi bintang, otak yang kurang pintar, lemak yang berlebih karena rakus tak kunjung padam, dan malas as my middle name. But surely, I will love myself the way I want to be loved by everyone.

Finally, I made my heart strong and decided to distance myself from any attachment to any people.

I’ll miss people, I’ll want to call them, I’ll want to reach out, and I’ll even want closure. But I will never forget the disrespect, the dishonesty, the unloyalty, and the lack of communication when all I wanted was understanding, or affection or love. I will never forget how much the attachment cost me now.

One said, “Life become more peaceful when you’re not interested in anyone, anymore and vibe alone, since it’s better to lose wrong people, than losing yourself”

I will try to be comfortable with vibing alone, and I’m sure it will empower me to be stronger and more content! ๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜‡

 

 

Comments

Popular posts from this blog

A letter for Sarah Dina Tobing (‘my heart live report’ of maroon5 concert)

PAPUA, SEMENTARA & SELAMANYA

mamaku tercinta...