Restart Letter for Papa

"Hai Bebi… aku baru bangun.. mimpi Papa, dan bangun-bangun nangis.

Ceritanya belum selesai tadi.

Aku baru sadar kalau aku gak sentuh Papa semenjak dia menikah lagi karena aku egois. Buatku, hidupku cuma butuh Papa dan aku maunya Papa juga cuma butuh aku juga. Aku gak mau ngerti kalau Papa butuh orang lain. Pada saat itu, aku belum tau kalau peluk dan cium anak, beda rasanya dengan peluk dan cium pasangan. Aku gak paham karena aku cuma cinta dia. Aku baru mikir kalau kayaknya aku salah dan rindu Papa, di sebuah sore yang ternyata Papa di Makassar sana lagi berjuang hidup di hari terakhir dia. Aku terlambat.

Segala puji untuk Tuhan yang langsung peluk aku setelah gagal dan bahkan gak bisa peluk Papa lagi. Langsung DIA yang urus aku gantiin Papa sampai sekarang aku punya energi besar utk hidup.  Hari itu aku menyaksikan kalau Tuhan beneran ada dan hadir untukku. 

Semenjak saat itu, i trust and  believe in GOD more than anything and anyone, like all human should do. Tuhan yang Maha Menciptakan segalanya, Maha Merajai segalanya dan Maha Memberi Rejeki!

Then here i am now.. Berusaha jadi anak Tuhan yang baik.. Berusaha mengurus Tuhan keduanya (Mama) dengan  baik.. Berusaha menjaga apa yang Tuhan sudah kasih, yaitu banyak banget orang baik di hidup aku, padahal aku bukan orang baik.

Itu sudah!


Dear Papa….

That  was my text to my new friend, and I called Him Bebi, since He's like a baby brother for me. You won’t like Him, like you don’t like any man in your daughter’s life. But you have to know, that’s Him, yang bikin aku inget Papa lagi, but not in a negative way, seperti beberapa tahun belakangan ini aku inget Papa. 

Bermula dari pembahasan siapa yang level Yatim-nya lebih sedih, di sebuah momen diantara kebersamaan kami selama 30 hari, maka Dia yang ditinggal Ayahnya waktu kelas 3 SD adalah kisah yang bikin aku sadar kalau aku jauh lebih beruntung bisa merasakan kasih sayang Papa selama 21 tahun.

Pembicaraan kami mengalir sampai ada momen aku kasih lihat foto Papa, and he said His Father looks like you, hanya saja rambutnya kribo. Agak aneh sih Pa.. secara Dia asli Sumatera, Papa asli India. Tapi mana ada yang gak mungkin ya kan Pa? Seperti lama-lama aku nyaman ngobrol hampir tiap hari sama dia di whats app, yang rasanya hampir mustahil aku lakukan sama orang lain, kalau bahasannya bukan pekerjaan. Gak intens banget sih, tapi tetap aneh rasanya. Saking anehnya, aku sering banget say goodbye karena rasanya "bukan aku banget" tapi kemudian hello lagi. 

Dengan si Bebi dan temanku yang Sumatera lainnya, topik menarik obrolanku selalu keluarga. Dari bahas keluarga, lama-lama kami bahas kehidupan kami masing-masing. As usually, aku gampang banget dekat sama orang Sumatera. Karena aku anak Mama banget kali yaaaa..

Papa pasti senang banget dengar aku sebut aku anak Mama yaaa.. and you must be very happy seeing us like now. Alfazos jadi Kakak Adik yang lebih sering akurnya daripada berantemnya, dan kompak membahagiakan Mama, as you wished!

Papa dulu selalu ingetin kita telfon Mama, perhatiin Mama dan nurut sama Mama walaupun Mama yang kami kenal adalah Mama yang galak banget, iya kan?

Mama masih galak sih Pa.. hanya saja Mama sekarang melemah, sehingga Dia sering jadi anak kecil yang mencari perhatian, atau orang tua yang bawel dengan segala pesannya, seakan2 takut tidak bisa lagi menjaga anak2nya.

Everything is changing and getting better time by time Paaaaa… all praise is due to GOD! 

Dear Papa,

Masih ingat kalau kita suka jalan-jalan keliling Jakarta dan sampai ke Puncak atau Ancol, just to enjoy our time together in a car kan ya? Kita juga pada suatu masa, hampir tiap hari ngobrol di mobil, karena Papa gak boleh ketemu kita di rumah setelah Papa officially pergi dari rumah kita. 

Aku masih suka banget berjam-jam di mobil Pa. Mobilnya diam atau jalan, dua-duanya aku suka. Dan ternyata si Bebi ini suka jadi supir alias menyetir mobil. Pas banget kan? Terasa lebih pas lagi ketika kami harus kesana kemari di pekerjaan kami, atau berkordinasi di mobil karena cuaca panas banget dan malas duduk di café yang AC-nya kurang dingin.

Aku sama Bebi baru beberapa minggu pulang dari Kota dan Kabupaten di ujung Timur Indonesia Pa. Kami 30 harian disana untuk kerja bareng. Dan kemarin kami closing dinner, lanjut mengantar teman-teman kami pulang. Di perjalanan terjadilah obrolan kesana kemari yang berujung dengan aku cerita tentang Papa. But this time, anehnya aku menceritakan keburukan Papa tidak dengan nada kebencian seperti biasanya, setelah aku mendengar cerita tentang Papa versi Mama.

Aku kembali jadi anak Papa yang menceritakan Papa dengan bangga, menganggap Papa unik, dan selalu, Papa si paling romantis! Aku bukan hanya kembali jadi anak Papa saja, tapi aku sekarang punya 2 cerita, tentang hebatnya Mama dan Papa. See? Aku bisa loh nulis Mama dulu baru Papa. Dimana rasanya dulu aku seperti bohongin diriku sendiri kalau mendahulukan Mama.  Aku sayang Mama sekarang Pa. Dulu juga selalu sayang sih, tapi sekarang more than anyone. More than you semoga! Bahkan saking sayangnya sama Mama, aku sempat benci Papa. Aku selalu bilang, kalau kematian Papa adalah hal yang paling harus aku syukuri, karena kalau Papa ada, aku gak bakal kenal dan cinta sama Mama. And I hate you lately Pa. I hate you for everything you did to Mama, yang baru aku tau detail-nya.

Tapi hari ini, anehnya aku bisa cerita tentang Papa in a positive way. Mengenang Papa dengan segala cinta luar biasa Papa ke kami. Mengulang kalimat “Papa adalah ayah terbaik tapi suami terburuk di dunia!” tanpa kebencian. Aku kembali bangga sama Papa yang selalu berusaha mempersatukan aku dan saudara2ku dari kami kecil. Banyak deh yang aku certain ke Bebi, sampai bikin dia penasaran Papa semenarik apa, sehingga kami puja dan bisa masuk kategori playboy segala. 

Dear Papa,

Aku udah kembali jadi anak yang bangga sama Papa. Tetap bersyukur atas meninggalnya Papa, karena aku sudah di level yang sangat percaya segala ketetapan Tuhan adalah yang terbaik! Ilmu yang diajarkan seorang Kakak yang kutemui 1 bulan sebelum Papa meninggal. Kakak yang dikirim Tuhan untuk siapin aku hidup tanpa Papa. Kakak yang Tuhan kirim sebagai perantara hidayah buatku.

Mungkin Tuhan juga kirim Bebi untuk jadi perantara hidayah yang serupa tapi tak sama ini ya Pa. I think Bebi is one of my 'Blue' people. Someone said, “Blue is someone who you have known for less than a year, but they already changed your life for the better. The person you can talk to for hours and not get bored. They make you trully happy”.

Sesungguhnya bermula dari aku pengen banget maki-maki dia untuk kebodohannya waktu kerja sama aku, tapi aku gak bisa maki karena dia bukan tim aku. Kesalahannya harusnya bukan aku yang tanggung, tapi kenyataannya aku yang dimaki client. Pas aku mau oper makian-makian tersebut ke dia, dia lagi ‘bergerak’ terus memperbaiki kesalahan yang dia buat, dan seterusnya he is always in progress to fix every mistake he did. Gak hanya kesalahan yg dia perbaiki, kekurangannya pun dia perbaiki di depanku Pa. Se-simple, dari gak pernah buang sampahnya sendiri, tiba2 aku perhatiin dia mulai buang sampah ke tempatnya. Jadi aku gak bisa marah sama dia Pa. Malah aku malu gak berproses membaik kayak dia, padahal aku juga banyak salah. Tapi akhirnya aku pilih bersaing sama dia. Persaingan yang dia gak tau tapi berhasil bikin aku jadi manusia yang lebih baik juga… and the most, jadi anak Papa lagi!

Dear Papa,

Di kamus manapun, gak ada kata yang melebihi rindu rasanya untuk Papa. Tapi aku udah gak tersiksa karena rinduku Pa. Ada Mama disini kok yang bisa aku peluk cium, walaupun 1 arah. Lumayanlah Pa.. gak dipukul pas nyium aja rasanya udah bagus kan yaaaah.. hahahaha.. Mama kan memang gak pernah peluk cium kami Pa. Karena memang sepertinya tugasnya bukan itu. Itu tugas Papa. Tugas Papa yang sudah selesai, dan jadi warisan yang tak terhingga nilainya Pa. Aku kadang masih minta dipeluk sama sahabat2ku, dan sama cucu2 Papa, tapi sesungguhnya I’m good tanpa pelukan mereka. Milyaran pelukan dan cium Papa masih bisa kurasain kok Pa. Tenang aja!

Saking hampir semua keanehan Papa kuceritain ke Bebi, aku bahkan tadi cerita ke Bebi kalau aku sering malas ngunyah dan dikunyahin makananku sama Papa, dan aku tinggal telan. Semua yang denger cerita ini pasti akan jijik sih. Tadi pas aku jelasin ke Bebi, aku jadi mikir, kok bisa yah aku gak jijik? Pastinya karena cinta! Cinta orang tua dan anak adalah cinta yang paling indah dari sejuta jenis cinta di dunia ini kurasa. 

Setelah berpisah sama Bebi tadi pagi, sampai rumah aku tidur terus mimpi Papa, lalu bangun dalam keadaan nangis, terus tiba-tiba menuliskan teks di atas ke Dia. Writing is healing buatku Pa. Gak puas cuma menulis di whats app, dengan alasan yang sama, aku tulis surat ini juga untuk Papa. Aku masih belum puas menyembuhkan luka yang aku buat sendiri. Luka karena aku membenci Papa beberapa tahun bekangan ini. Makanya aku nulis lagi. 

Semoga Papa semakin bangga dan bahagia di langit sana melihatku. I will always be in progress to be better and better, sampai Tuhan anggap aku layak berkumpul sama Papa, Mama, dan Alfazos di surga nanti.  

Jagain aku terus ya Pa.. jagain si Bebi juga kayak Papa selalu jagain teman-temanku dan memastikan kami aman dan nyaman di semua kegiatan kami dulu... 

Here you go one more love song for you.. as we always sing a love song for each other… ini lagu John Mayer yang aku bilang sama temanku kalau aku gak kenal John Mayer, tapi ternyata aku hafal lirik salah satu lagunya, dan lagi berkumandang di Spotify-ku sekarang ini banget.. dan ini adalah lagu yang kudengar di saat aku mulai buat surat ini… Woooowww.. Tuhan keren banget ya Paaaa.. play list aku aja pas banget 1 putaran untuk aku bikin surat ini.. What a beautiful coincidence! 
 

A great big bang and dinosaurs
Fiery raining meteors
It all ends unfortunately
But you're gonna live forever in me
I guarantee, just wait and see

Parts of me were made by you
And planets keep their distance too
The moon's got a grip on the sea
And you're gonna live forever in me
I guarantee, it's your destiny

Life is full of sweet mistakes
And love's an honest one to make
Time leaves no fruit on the tree
But you're gonna live forever in me
I guarantee, it's just meant to be

And when the pastor asks the pews
For reasons he can't marry you
I'll keep my word and my seat
But you're gonna live forever in me
I guarantee, just wait and see

I love you so much Pa.. still the most, for always….

Comments

Popular posts from this blog

A letter for Sarah Dina Tobing (‘my heart live report’ of maroon5 concert)

PAPUA, SEMENTARA & SELAMANYA

mamaku tercinta...