“Size 14 is not fat either”, by Meg Cabot


In my opinion, judul bukunya gak ada hubungan dengan ceritanya. Judulnya cenderung membuat kita menebak kalau ceritanya akan lucu atau berupa perjuangan wanita bertubuh gendut meraih cita dan cinta like many other books of fat girl or woman, tapi baru beberapa halaman, kita sudah berhadapan dengan dua cerita, yaitu cita dan cinta alias ordinary life journey dan yang satunya lagi kasus pembunuhan.

Ada beberapa keanehan di buku ini, misalnya, tidak ada petunjuk bahwa ini adalah buku serial edisi ke sekian, tapi ada pernyataan kalau Heather Wells, tokoh utama buku ini, sebelumnya juga pernah ikut-ikutan para detektif memecahkan kasus kematian di gedung tinggal, sebutan Heather untuk asrama, tempat dia menjabat sebagai assisten direktur pengelola. Bukan sekedar informasi biasa, tapi tersurat seakan-akan kita sudah tau detail cerita tersebut. Walaupun pada kenyataannya ini memang buku ke-2 yang menceritakan tentang Heather Welss. Buku pertama berjudul, "Size 12 is Not Fat".


Keanehan lain adalah penjelasan tentang karakter masing-masing tokoh yang timing-nya dilakukan secara acak, termasuk karakter tokoh utamanya. Seakan-akan kita tidak diperkenalkan dengan baik ke mereka (para tokoh dalam buku – red).


Mungkin masalahnya ada di penerjemahan bahasa yang memang saya akui sometimes tidak terlalu berhasil dilakukan oleh tim penerbit buku. Seringkali mendingan baca buku dalam bahasa Inggris dan repot buka kamus, daripada baca terjemahan dan berkali-kali mikir apa maksud dari persatuan kata atau kalimat pada buku tersebut.


Well, anyway, tetap saja buku ini bukan buku sembarangan. Isinya yang padat, tokoh dan intriknya yang banyak, sangat bikin penasaran dan tidak asal menebak ending-nya. Peleburan yang hebat antara kisah cita cinta dan pengungkapan pembunuhan pun mengalir menjadi satu. Bahkan saya yang tadinya mau memisahkan cerita tersebut dengan membacanya dua kali, tidak jadi melakukan hal tersebut, karena susah sekali memisahkan adegan-adegan kedua point cerita tersebut. Adonan ceritanya sudah teraduk dengan baik!


For translation reason, buku ini termasuk buku yang tidak saya baca every single words, tapi saya sarankan untuk difilmkan. Saya yang suka menempatkan diri saya sendiri sebagai tokoh utama film dari buku yang saya baca, khususnya jika tokohnya perempuan gendut, kali ini memilih Sheina, finalis XFactor I Indonesia yang sempat masuk lima besar, sebagai tokoh utama. Pandai bermusik, berkepribadian menarik, pintar, berani, cantik dan kategori lainnya yang membuat dia layak dicinta.


Banyak imbuhan cerita alias riak yang menemani ombak besar cerita buku ini dan membuat buku ini seperti pantai yang indah untuk ditelusuri. Sangat tidak menyesal saya membacanya, setelah saya berkali-kali membatalkan niat untuk membacanya.


Heather Wells bukan perempuan gendut dalam usia menikah yang harus dikasihani, tapi ia adalah contoh untuk kita memahami, pada dasarnya hidup adalah untuk dijalani dalam keadaan bahagia. Bahagia dalam kejujuran berfikir dan bersikap yang akhirnya melahirkan keberanian. Heather Wells bukan hanya menunjukkan kalau semua wanita cantik, berapapun ukuran celana panjang-nya, seperti dalam cerita-cerita perempuan gendut lainnya, tapi semua wanita dan manusia punya lebih dari satu keahlian yang bisa membuat dia lebih ‘hidup’!


Thanks God, saya selalu dipertemukan pada buku yang memberi banyak pelajaran hidup dan menulis. Kalau buku sebelumnya yang saya review mengajarkan saya untuk jangan takut memberi kebanyakan informasi dalam menulis, maka buku ini memberi pelajaran, untuk jangan takut memberi banyak adegan berintrik dengan banyak tokoh yang semuanya memang merupakan gambaran hidup. Bahwa manusia bisa saja mengalami banyak hal di setiap harinya, terlibat dengan banyak manusia dan menjalani banyak peran. Asal bisa meracik semuanya menjadi santapan yang enak, seperti buku ini.


Tinggal pilih mau focus ke cerita cita cinta nya Heather, atau cerita pengungkapan misteri pembunuhan yang terjadi di gedung tinggal tempat Heather bekerja atau yang lain. Saya pilih, mengamati tokoh-tokoh berkarakter kuat dan adegan-adegan kecil pendukung cerita. Bahkan saya pilih very noted sama pesan yang nyaris tidak ada hubungannya dengan cerita, yaitu, kalau membeli kopi di Coffee Shop yang berkelas alias kopi-nya tergolong mahal-mahal, maka pesanlah yang paling enak dan paling besar sekalian, agar tidak merasa menyesal dan merugi di kemudian hari! ;)


Buku yang worth to read! 

Comments

Popular posts from this blog

A letter for Sarah Dina Tobing (‘my heart live report’ of maroon5 concert)

PAPUA, SEMENTARA & SELAMANYA

mamaku tercinta...