i will create my own sunshine...
Beberapa hari yang lalu, saya menjalin komunikasi dengan seseorang yang selama 2 tahun ini sulit saya lepaskan dari diri saya, maupun ingatan saya. Banyak hal yang menurut saya menjadi penyebabnya. Beberapa diantaranya adalah, dia mempunyai banyak manfaat dan peran buat saya, saya merasa masih butuh dia, dan apa yang kita miliki di waktu sebelumnya terlalu berharga untuk dihentikan begitu saja, apapun alasannya. Ketiga alasan tersebut tentu saja benar-benar hanya apa yang saya rasakan, dan tentu saja dia tidak merasakan hal tersebut ke saya. That’s why, komunikasi tersebut jadi lebih mengarah seperti saya sedang curhat ke seorang sahabat. Nyatanya kita memang dulu bersahabat, sebelum semuanya berantakan, dan entah siapa yang memulai.
Pada saat saya menyatakan ketidakrelaan saya terhadap penegasan bahwa kita gak mungkin bisa berhubungan seperti sebelumnya, dia menjawab saya dengan berbagai kalimatnya, dan raungan serta tangisan saya terhenti pada kalimat, “ingat kisah Umar ra. yang marah kepada Tuhan ketika Rasulullah saw meninggal gak? Umar ra. merasa umat masih membutuhkan Rasulullah saw. Tapi kemudian Abu Bakar ra. memarahi Umar ra. dan mengingatkan Umar ra. kalau Rasulullah hanya manusia, dan Tuhan lah yang kita sembah”. Kurang lebih begitu kalimatnya.
Saya yang pernah membaca kisah beliau2 yang mulia tersebut, jadi ingat perjuangan mereka di jamannya. Perjuangan lahir dan batin, serta siang dan malam, berusaha membawa manusia ke jalan yang benar. Saya langsung merasa cupu hebat! Saya hanya meributkan kehilangan orang yang hanya penting buat hati saya. Sementara secara fisik, saya baik-baik saja tanpa dia. Nyatanya, saya masih bisa bekerja dan hidup dengan baik tanpa dia.
Saya memang seringkali meributkan dan membesar-besarkan hal-hal yang sebenarnya sepele dibandingkan dengan banyaknya hal-hal besar di kehidupan ini. Saya seringkali lupa, di sekitar saya masih banyak orang yang membutuhkan kesehatan jiwa dan raga saya untuk bersinergi menciptakan kebahagiaan bersama. Saya seringkali lupa dan nyaris memper-Tuhan-kan manusia yang menurut saya paling berpengaruh untuk memberikan rasa bahagia di hati saya. Padahal, Tuhan membebaskan kita untuk merasa, memilih, berfikir dan berbuat.
Saya jadi teringat seorang kakak yg pernah nge-tweet, “create your own sunshine in the dark morning”, simple words yang selalu saya ingat, with a deep meaning yang selalu saya lupakan… bahwa segalanya ada di keyakinan kita, dan ada di diri kita. Persis seperti yang setengah mati disampaikan seseorang yang sangat special ini kepada saya, berulang kali, selama 2 tahun saya menyalahkan dia atas sesuatu yang tidak lagi saya bisa rasakan dan miliki.
Setelah melalui beberapa hari of thinking hard about what happen with me after us, saya kembali kepada.. No Life Is Perfect! Saya juga kembali membuka page quote di blog saya, dan dengan sengaja menemukan kata-kata, “Semua perjalanan hidup adalah sinema. Bahkan lebih mengerikan. Darah adalah darah, dan tangis adalah tangis. Tak ada pemeran pengganti yang akan menanggung sakitmu”, dari Dewi ‘Dee’ Lestari.
Saya juga menemukan syair panjang Imam Syafi’i di page tersebut, yang salah satu kalimatnya adalah, “tak ada kesedihan yang abadi, begitupun suka ria dan tak ada pula cobaan yang kekal, begitupun riang gembira…”.
Syukur tiada tara kepada Tuhan yang mendatangkan dia di hidup saya, mengajarkan saya banyak hal tentang hidup, memberi saya suka ria dan tangis, dan masih saja berbahasa dengan baik, menjawab bahasa busuk saya di SMS kita yang terakhir. “Apapun yang kita rasakan, life goes on. Always try to survive, apapun keadaannya…..”, he said.
“Pasti wahai guru dan sahabat! Saya akan tetap berjalan, apapun yang saya rasa. Saya akan belajar menguasai diri dan hidup sebagaimana mestinya manusia yang bersyukur. Saya mungkin akan sedih sesekali, tapi akan bahagia kembali. Saya akan berusaha mengingat pelajaran yang pernah diberikan kepada saya, sepanjang hidup. I will create my own sunshine! “
#MakaNikmatTuhan-muYangManakahYangKamuDustakan?
Comments
Post a Comment