This too shall past...

Saya pernah nonton film true story yang cerita tentang orang yang dipenjara belasan tahun dan terpisah dari anak semata wayang-nya, cuma karena tuduhan nyasar. Pastinya it hurts more dari apa yang saya rasa saat ini. Lagi pula, kalau saya terhukum bukan karena apa yang saya lakukan, mungkin saja karena hal buruk lain yang saya lakukan di dunia ini. Everything happen for a reason.

It's so easy to say memang, setelah saya sendiri mengalami 2 malam gak bisa tidur, cuma karena kasus PHK yang saya gak bisa tolerir. Apalagi dari kantor yang sudah saya niatkan jd kantor terakhir di hidup saya. Ego saya keep saying, how could they do this to me? Yes it is hurts so bad. Tapi deep down inside saya gak mau larut, membuktikan saya tidak bersalah, menuntut keadilan, apalagi sampai membalas. Saya juga gak mau kasusnya jadi panjang dan melibatkan banyak orang. Saya tidak mau ada orang lain tersakiti juga.

Saya tiba-tiba ingat kata2 Feby Febiola (artis), di infotainment beberapa hari yang lalu. Ketika ditanya kenapa gak kedengaran berita kisruh rumah tangganya tapi tiba2 ketauan sudah cerai, dia jawab, "Saya gak suka menceritakan masalah saya ke orang lain. Menurut saya, blm tentu orang perduli dan bisa jadi orang punya masalah yang lebih berat dari kita. Jadi kalau ada masalah saya have fun, ketawa2 sm teman2 saya dan pulang menyelesaikan masalah saya sendiri."

The problem is, saya bingung pilih temen yang mana utk ketawa-ketawa. Karena teman-teman Saya ketawanya dikit, curhat dan gosipnya yang banyak. Kenyataannya dunia saya adalah dunia penuh pelajaran hidup, bukan dunia gemerlap atau dunia yang banyak haha hihi.

Mungkin di saya jalannya harus gitu. Saya harus keluar dan mendengar serta melihat banyak masalah di luar sana, dan dengan begitu, saya akan find out kalau masalah saya lebih ringan. Or at least, saya melihat bahwa gak ada hidup yang sempurna, walaupun beberapa lebih beruntung dari Saya. I don't know! Tapi saya pernah mengalami kasus serupa tapi tak sama 4 tahun yang lalu dan saya lupa bagimana saya melewatinya dulu. Yang saya ingat, akhirnya masa-masa itu berlalu, dan kemudian masa2 bahagia datang, lalu datang lagi masa2 sedih karena hal lain, dan itu pun berlalu juga. Many days i cried a lot... but many days i smile a lot... tinggal pilih mau hitung yang mana kan?

Saya selama ini ngajarin orang untuk count their blessings, not their problems... and sometimes life is so much bitter, tapi Tuhan selalu menguji manusia sesuai kesanggupannya. Saya juga sering bilang badai pasti berlalu dan datang lagi. Dan saya paling sering bilang, semua yang dikasih Tuhan itu adalah yang terbaik, cuma kadang2 gak sesuai keinginan kita. So, ini saatnya saya bicara pada diri saya sendiri sepertinya!

Kaca mata-nya 'manusia biasa banget' kayak saya, ini memang tidak adil, tapi dari langit sana, ini pasti tatanan indah yang dibentangkan buat saya berjalan di atasnya.

Crying will be good for me i think, but i have no place to cry. Rumah jadi pilihan saya untuk menenangkan diri, dan so pasti gak bisa nangis di rumah. Kasihan Mama kalau liat saya sedih, kasihan juga siapapun di dunia ini kalau harus menanggung kesedihan saya. Kasihan 'tong sampah' saya yang sepertinya sudah penuh. Kalaupun mau ditulis as this, harus dikemas biar gak nyata as curhat manusia brengsek gak tau diri dan gak bersyukur! Karena one said, setiap apa yang kita tulis, harus bisa dipertanggung jawabkan dunia akhirat.

What so interesting is, saya dulu pernah pergi meninggalkan perusahaan yang sudah bikin saya pintar, dan beberapa orang disana kecewa. Sekarang kebalikannya. Roda itu berputar Jenderal!

Akhirnya setelah seharian galau pasca hari 'H' tersebut, hari ini saya pilih keluar dari rumah for have fun go mad, dan berhasil. Memang dasar Tuhan sangat amat baik! Saya sempat ragu karena takut dianggap tidak serius memetik pelajaran dari kejadian ini oleh para penghuni langit, but quite well done! Lunch and karaoke sama sahabat SMP dan dinner sama teman-teman baru. It was unpredictably fun dan so pasti gak ada menu curhat. Segala pakai acara ketemu my first love alias cinta monyet saya yang so sweet banget perlakuannya terhadap saya, sampai 3 teman perempuan yang bersama saya ikut bahagia dan iri. 

Setelahnya, saya memutuskan untuk tidak menyampah lagi. Terbukti saya masih bisa bahagia dan pasti bisa terus bahagia. Menurut saya, being happy menunjukkan kita bisa mengendalikan arus hidup ini. Nggak ada pilihan lain untuk saya, selain merasa bahagia sama apa yang saya pernah dan masih punya. Dan yang paling manjur untuk keadaan yang tidak sesuai kehendak saya ini adalah, berfikir kalau 'this too will past..'.


God knows God pays!!!



Rabu, 27 Maret 2013

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

A letter for Sarah Dina Tobing (‘my heart live report’ of maroon5 concert)

PAPUA, SEMENTARA & SELAMANYA

mamaku tercinta...