YANGTI (1)
Pada suatu pagi...
SMS
Yangti : “Yangti ke sekolah. Sup nya dimakan, mumpung
masih hangat. Istirahat aja, nggak usah kerja. “
Aku : "Iya ti".
Setelah itu aku langsung menyentuh mangkuk sup yg terbuat
dari keramik, di atas meja kecil di sebelah kasur aku, lengkap dengan roti
bakar, buah apel, pisau dan teh manis yang juga masih hangat. Aku
langsung mulai ingat, kalau beberapa menit yang lalu, aku memang merasa ada yang masuk
kamar dan megang keningku, trus pergi meninggalkan aku sendirian yang masih
merem.
Kenyataannya memang sup dan teh tersebut masih hangat, karena ternyata ditaruh dalam keadaan sangat panas, dengan prediksi Aku akan bangun ketika mereka menghangat. Yang tidak nyata adalah kasur tempat aku tidur bukanlah kasurku. melainkan kasur yang ada di salah satu kamar, di rumah Yangti.
Dari mana Aku yang keturunan Batak dan India punya Yangti (singkatan untuk sebutan Eyang Putri) ? Dari mata turun ke hati! hehe.. panjang deh ceritanya..
Setelah, menghabiskan sup dan teh buatan Yangti, aku kemudian bangun dan tetap berangkat ke kantorku yang gak jauh dari rumah Yangti. Rupanya Yangti pergi sama Yangkung, jadi cuma ada aku di rumahnya. Mereka memang tinggal berdua saja. 5 anak perempuannya, tinggal menyebar di jagad raya ini. BSD, Pamulang, Bekasi, Qatar dan Swedia. Semuanya sudah beranak pinak kecuali yang di Swedia untuk gelar Doktor-nya. Pengurus rumah biasanya datang di pagi dan sore hari saja. Jadi, sudah kebiasaan yang pergi terakhir dari rumah, mengunci semua pintu dan menitipkannya ke tukang rokok dengan warung rokok kecilnya yang bertengger di dinding depan rumah mereka, seperti layaknya pos penjaga.
Nggak lama duduk di meja kantor, HP-ku bunyi, ada SMS masuk.
SMS
Yangti : “kamu kok kerja? Emangnya dah sembuh? Pulang aja
lagi”.
Aku : “gakpapa ti, udah enak kok. Makasih sup-nya ya
ti. Roti sama apelnya aku bawa nih”.
Yangti : “yowes, nanti pak Jo (pengurus rumah) tak suruh
anter makan siang. Kamu pulang ke rumah yangti lagi aja ya.”
Sejam kemudian, sup panas, nasi dan berbagai lauk mendarat di meja kantor Aku dan sorenya kembali Aku pulang ke rumah Yangti dalam keadaan demam (lagi). Setelah makan malam dan mendengar ceramah singkat tentang thypus dari Yangkung dan Yangti, Aku pun naik ke atas, ke kamar yg biasa Aku pakai. Nggak lama Yangti nyusul dan nempelin kompresan berbentuk bantalan plastic berisi cairan kental yang super dingin ke kening Aku, terus ngeloyor pergi without saying anything.
Itu memang ciri khas-nya Yangti. Nggak seperti nenek-nenek
or ibu-ibu seusianya dan pada umumnya, Yangti nggak pernah ngomel panjang kali
lebar. Tetap pernah ngomel, tapi nggak panjang kali lebar! Panjang kali
lebar-nya Yangti hanya terjadi di cerita-cerita sarat ilmu pengetahuan.
Besok paginya terjadi lagi hal yang sama… tapi bedanya, aku tidak kembali ke rumah Yangti sore harinya, tapi pulang ke rumahku. dan ketika aku kabarin lewat SMS, Yangti balas dengan, “oke love”. Seperti biasa.. seperti biasa dia menyerah penuh cinta dgn segala langkah yang aku buat dalam hidupku. Seperti biasa dia menjawab semua penolakan Aku terhadap tawarannya. Tidak dengan kecewa, tapi dengan cinta yang bikin aku seringkali jauh merasa bersalah.
Bukan sekali dua kali Aku pulang ke rumah Yangti krn Aku nggak sanggup pulang ke rumah Aku yg jauh dari kantor. Tapi seringkali! Baik nggak sanggup scr fisik,maupun scr psikis. Yangti dengan hatinya yang menurut Aku lebih luas dari Samudera dan pengalamannya dgn berbagai jenis ‘anak-anak’, punya formula yang pas untuk menghadapi setiap anaknya, termasuk Aku, anak angkat-nya yang ke-33. Of course I’m numbering my self, saking banyaknya anak angkat-nya Yangti yg menyebar dari Sabang sampai Merauke. Serius Aku, dari Aceh sampai Papua!
“Aku tadi tanya ke Yangti, kamu sudah bangun apa belum. Aku juga bilang ke Yangti kalau aku khawatir sama kamu, karena tadi malam pas kamu mampir ke kantorku, kamu kelihatan banyak pikiran”, kata Mba Ulfa, salah satu kakak yg juga bagian dari anak-anak dan muridnya Yangti. Kebetulan hari itu ada kelas kursus yang biasa diisi Yangti berdua Mba Ulfa dan aku datang setelah sesi Yangti selesai dan Yangti sudah pergi untuk keperluan lain. “trus Yangti jawab apa?”, tanya ku. “Yangti dengan lantangnya bilang di depan semua orang, kalau kamu itu orang yang pandai memotivasi dirinya sendiri. Kalau dia ada apa-apa, dia sembuh sendiri. Begitu kata Yangti dengan wajah yang serius”, jawab Mba Ulfa. Ketebak dong apa yang terjadi setelah itu di aku? Hujan air mata pastinya!
Yangti yang aku pikir gak tau kalau aku sedang ada masalah, taunya malah punya penilaian sendiri bagaimana aku menghadapi masalah aku. Aku bahkan gak tau kapan Yangti pernah menatap aku lama untuk membaca sesuatu di diriku. Tapi nyatanya, aku terbaca dengan baik oleh beliau.
Dan pada suatu pagi yang baru saja lewat…
SMS
Aku : “nanti ya Ti, kalau sudah gak terlalu banyak kerjaan. Gak enak kalau bawa muka mumet ke rumah Yangti, diliatnya jelek! Hehe”
Yangti : “gak apa2. Biar Yangti urus kamu. Nanti pulang kerja tak bikinin sup atau salad biar seger”.
Aku : “hehe.. jangan dong Ti. Harusnya aku yg ngurus Yangti. Nanti aku kesana kalau sempat ya ti.”
Yangti : Oke love
Ngomong2 tentang curhat. Aku gak pernah curhat sama Yangti. Sebatas cerita
paling. Aku lebih senang duduk di dekat Yangti, mendengarkan dia bercerita,
sambil menikmati hasil karyanya di dapur. Cerita2 Yangti begitu menarik buatku,
krn sosok dan hidupnya pun demikian menarik. Dari banyak dan panjang ceritanya, aku malah jd sering bertanya2, sebenernya Yangti apa aku ya yang pandai
memotivasi diri sendiri?
Yang pasti.... dari Yangti aku belajar ‘menelan’ banyak ‘pil pahit’ hidup
karena tidak ada hidup yang sempurna. Yangti punya saham besar mengajari aku
untuk realistis dan bersyukur, tidak hanya dari cerita-ceritanya, tapi dengan suri
tauladan yang kulihat dengan mataku, beberapa musibah dialami Yangti. And you
know what? Gak ada satupun masalah hidup yang menghambat Yangti berkreativitas!
Comments
Post a Comment