i'm a lucky jerk!!!
Dari kecil gue dididik untuk berbagi dan kalau perlu beri saja semuanya by my parents. Mulai dari hal umum merayakan ultah di panti asuhan, memberi kado ke org2 dekat yang ultah, memberikan baju, mainan dan buku cerita yang menumpuk untuk saudara2 di kampung atau tetangga2 yang kekurangan, menirimkan makanan ke tetangga, mentraktir teman, sampai memberi barang apapun yang diminta orang sekaliapun barang itu kita suka. Krena prinsip yang diajarkan adalah memberi, maka kita seperti dipantang dan merasa malu untuk menerima. Sampai2 kita gak pernah dapat angpao lebaran dari orang lain. Bahkan kado ultah kita yang selalu banyak alias seakan-akan diberikan oleh sekeluarga besar alias om, tante, nenek sampai supir dan pembantu, semuanya Papa dan Mama yang beli alias bukan aslu dari mereka. Mereka tinggal nulis ucapannya doang di kartu.
Selain rahmat dari Tuhan YME dan faktor internal yang tidak
lagi menemukan ‘segalanya’ di rumah yang mulai ‘berantakan’, ada faktor
external yang membuat proses menerima itu berjalan mulus, yaitu hadirnya orang2
yang begitu tulus berbagi dengan gue. Gue sebut 'orang2' untuk arti
sesungguhnya, bahwa memang ada banyak yang keliatan bahagia kalau gue menerima
apa yang mereka beri dengan senang hati. Ada teman-teman, kakak2 kelas, bahkan
ada guru yang suka kasih hadiah.
Guru? Yes! Rasanya aneh buat gue, ketika gue bertanya ke
guru Biologi gue, rumput laut yang katanya bisa dimakan itu rasanya seperti
apa, trus besoknya gue dibawain rumput laut yang siap dikonsumsi yang ditaruh
di kolong meja gue seperti sebuah kejutan. Lalu ketika guru tersebut
menerangkan tentang buah-buahan dan pokok bahasan melebar ke rujak, besoknya gue
dibeliin rujak beneran. Dan ada guru lain yang sering banget kasih kue alias
jatah snack-nya ke gue. sampai2 gue bertanya2 dlm hati, “nih Bapak buta kali
ya? emang gue keliatan butuh kue dengan berat gue yang udah 60-an (di
jaman gue SMA ) ?” atau emang almarhum yang dulu ngajar Kimia, seneng kalo liat
gue membulat seperti atom-atom pembentuk molekul !
Best of the best dari semua faktor external itu adalah orang
yang pasti dikenal oleh seluruh orang yang kenal baik sama gue, yaitu my very
best sister. Gue gak bisa bilang dia sahabat gue, karena hadirnya melebihi
seorang sahabat dan usianya memang lebih tua dari gue. Gue yang dari kecil
dikenalin sama tokoh2 social seperti Mother Theresia, Lady Di, Michael Jackson
sampai Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut dan cuma bisa liat mereka di
TV, pada saat itu serasa menemukan tokoh sejenis, yaitu orang yang hatinya
lebih besar dari badannya yang besar. Dia tidak hanya memberi untuk gue, tapi
untuk yang lainnya dan bahkan dia menularkan kegiatan memberi itu ke orang
lain. Sampai akhirnya gue menemukan quote yang sangat berarti untuk hidup gue,
yaitu “see what you can do for others, not just what they can do for you” di
buku agenda my great sister itu.
Quote itu bikin gue gencar lagi berusaha memberi, tapi
entah kenapa tetap saja lebih banyak yang gue terima. Dan apa yang gue
terima itu menggelinding seperti bola salju yang semakin lama semakin besar,
sementara apa yang gue berikan ke org lain menggelinding seperti kapur barus
yang semakin lama semakin kecil karena menyublim.
Apa namanya gue, yang selama 3 tahun jadi anak durhaka
dengan membenci Papa yang membagi cintanya dengan keluarga barunya, tapi ketika
Papa meninggal, Tuhan merubah gue menjadi wanita muslim yang berhijab dan
rutin sembahyang sampai sekarang?
Apa namanya gue, yang tidak pernah merasakan lapar, bahkan
tidak pernah susah payah mencari pekerjaan?
Apa namanya gue, yang punya kakak dari setiap masa kehidupan
gue, puluhan sahabat lama dan ratusan teman dekat yang jumlahnya bukan
berkurang tapi malah bertambah setiap harinya?
Apa namanya gue, yang diterima banyak keluarga di rumahnya,
padahal gue tidak pernah membawa apa-apa ke rumah tersebut?
Apa namanya gue, yang nyaris tidak pernah menghubungi
kakak2, sahabat & teman2 gue terlebih dahulu, tapi mereka rajin menghubungi
dan menanyakan kabar gue?
Apa namanya gue, yang hobi membaca dan membeli buku, lalu
kemudian menyumbangkan buku2 yang sudah gue baca ke perpustakaan2 kecil yang
dibutuhkan lingkungannya, tapi Tuhan malah memberi gue kemampuan membeli buku
lebih banyak dari yang gue sumbangkan?
Apa namanya gue, yang sebenernya gak terlalu sungguh-sungguh
bekerja, tapi selalu mendapat tim yang sungguh2 ?
Apa namanya gue, yang gak pernah berusaha memeriahkan
liburan orang lain, tapi selalu dimeriahkan liburannya oleh orang lain?
Apa namanya gue, yang kebetulan ‘cuma suka’ nulis, sering
dapat bimbingan gratis dari penulis terkenal dan senior2, penghargaan dan
masukan dari teman2 dan sudah sangat bahagia dengan itu semua, tapi sebulan
terakhir ini mendapatkan kiriman link lomba menulis dari 3 sahabat sejak SMA
dan 1 org teman baru ?
Apa namanya gue, yang gak merasa dress up lengkap tanpa
gelang, sering dapat oleh2 gelang dari orang2 di sekitar gue sampai sering juga
gue bagi2 biar gue gak termasuk penimbun, tapi jumlahnya bukan berkurang tapi
malah bertambah?
Apa namanya gue, yang gak pernah merasa memberi apapun ke
anak-anak teman gue, bahkan nyaris gak pernah menanyakan kabar mereka, tapi
orang tua mereka senang sekali membagi keceriaan, kisah dan prestasi mereka ke gue
melalui cerita, foto dan pertemuan dgn mereka?

Comments
Post a Comment