my review of Antologi Rasa by Ika Natassa
If someone ask, what is my favorite novel ever? I would say Life of Pi,
Thousand Splendid of the Sun, Sheila … and no one of them consist of ‘love’
story, walaupun buku-buku itu menguras banyak air mata. But if someone ask, what is my
favorite ‘love’ story novel ever? I will definitely answer Perahu Kertas by
Dewi ‘Dee’ Lestari.
Gue beli buku Perahu Kertas setelah baca 3 edisi Super Nova dan
Filosofi Kopi. Buku ini sering gue pegang dan nggak jadi gue beli. Sampai pas mau beli
pun, gue butuh dukungan ‘orang pintar’ untuk kasih gue advise isinya bagus apa
nggak and finally he brought me that book with Padang Bulan-nya Andrea Hirata
sebagai hadiah waktu gue mau pindah kerja ke kantor sebelum yang sekarang. "Buat baca-baca di bis", katanya, dan gue terima
buku-buku itu... seperti gue terima semua yg dia pilihin buat gue. Aaaahhhh… stop win! masa baru paragraf ke-2 udah curcol! :P
Kepala gue sering bertanya, “emang penting ya baca buku tentang kehidupan cinta seseorang
sampai setebal itu?”, ketika mata gue tertuju ke novel-novel cinta di rak buku. Toh gw dah cukup banyak melihat dan mendengar dari teman-teman dan orang-orang di sekitar gw.
Pernah jaman kuliah gue baca ‘to love again’-nya Danielle Steel, pinjam dari kakak gue, karena merasa dari jaman kelas1 SMA dulu, kok gue nggak pernah lagi ya naksir cowok? Akhirnya baca dan naksir brondong selama gak sampai sebulan. Nggak sukses banget tuh buku!
Pernah jaman kuliah gue baca ‘to love again’-nya Danielle Steel, pinjam dari kakak gue, karena merasa dari jaman kelas1 SMA dulu, kok gue nggak pernah lagi ya naksir cowok? Akhirnya baca dan naksir brondong selama gak sampai sebulan. Nggak sukses banget tuh buku!
Setelah itu, di ultah gue tahun 2010, gue dapat kado 3 novel dengan tema ‘cinta’
dari salah 1 kakak gue yg rajin banget berusaha setengah mati bikin gw jadi
perempuan normal, termasuk maksa gue pake baju bercorak bunga dan nggak pernah
berhasil. Akhirnya juga tuh buku cm gue baca 1 dan ketiganya mendarat di rumah
teman kakak gue dlm waktu sesingkat-singkatnya dengan pesan, “tidak usah
dikembalikan”.
Tapi kali ini gue yg lagi rakus-rakusnya baca novel demi mempelajari ‘tulisan’-nya
dan berharap one day punya my own novel, harus bergelut sm beberapa ‘love’
story novel as references. Dan sampailah gue di salah satu momen ber-novel-ria yang
sangat menarik. Momen dimana gue membeli dan membaca novel tebal tentang ‘love’ hanya karena di bagian belakangnya, ada kata-kata Dewi ‘Dee’ Lestari as
the endorser. Momen dimana gue tidak perduli lagi sama tebalnya novel tsb dengan
huruf-hurufnya yang sangat kecil dan rapat2. Dan momen dimana gue berharap seluruh
dunia baca buku ini, or at least membaca review gue tentang buku ini.
Next adalah alasan-alasan kenapa buku “Antologi Rasa” bikin gue jatuh
cinta tapi gak ‘buta’. Mungkin gue akan sedikit buta kalau nggak pakai kaca mata,
but thanks to my sister yang udah memilih dan membelikan kaca mata anti
patah dan pecah untuk nemenin gue baca sampai ketiduran. Here you go the best reasons why i love this book :
1. Teach me a lot of writing lessons
a. To just write down …
Buku ini ditulis dengan gaya bercerita panjang kali lebar yang sarat
dengan opini pribadi tentang sesuatu. Bahkan ceritanya sendiri adalah cerita tentang ‘seakan-akan’ kehidupan pribadi yang nilai privacy-nya sangat kuat. Saking
kuatnya, sampai2 kita seperti dipesankan untuk “don’t judge, just read and take lessons!”
I was not…bahkan buku ini bikin gue lebih berani show off what’s on me dimanapun
gue menulis. Social media, BB, chat room, blog, dsb. I was not.. since I put so much
respect and deep understanding with the words yg menjadi paragraph pertama di ‘Ucapan
Terima Kasih’ :
You do not write a
novel for praise, or thinking of your audience. You write for yourself; you
work out between you and your pen the things that intrigue you. – Bret Easton Ellis
b. To have a great time to write dengan menjadi beberapa tokoh sekaligus
Gaya menulis dengan ‘aku’ sebagai tokoh utama alias si penulis
seakan-akan menceritakan tentang pengalaman pribadinya, memang lebih mudah
membuat pembaca tenggelam dalam kehidupan yang diceritakan. Gaya diary kl kata
gue.
Yang bikin gue harus bilang WOW adalah, penulis memainkan peran triple, alias buku ini jadi seperti diary 3 orang sekaligus yang menulis secara
bergantian dengan giliran yang unik. No wonder Dewi ‘Dee’ Lestari, di bagian
belakang buku ini, berkomentar :
“Dalam bukunya kali ini, dengan berani Ika Natassa “memerankan” setiap
tokoh dan bercerita dari sudut pandang mereka masing-masing, membuat dinamika
yang menarik, tajam, cerdas, sekaligus humoris sepanjang cerita.”
c. To inform people a lot of things, as many as you can!
Di buku ini, penulis banyaaaaaaaaaakkkk banget bercerita or menjelaskan
detail hal-hal yang ada di ceritanya. Dari mulai bercerita spesifik tentang penyanyi
John Mayer dan karya-karyanya, buku yang layak dibeli untuk jadi dongeng sebelum
tidur anak kecil, masa pelatihan para banker, pertandingan F1, mall, resto,
branded things, film, dsb. Uniknya, segala macam info itu dikemas singkat,
padat, jelas dan menarik. Satu lagi yang menarik yaitu, info2 tersebut
diselipkan di momen yang tepat, alias nggak mengganggu or bikin kita disorientasi.
Its so amazed how she know a lot of things so deep! Bahkan dari buku inilah gue tau kalau Guns N' Roses masih memegang rekor tour terpanjang di dunia. 'The Use Your Illusion Tour" berlangsung dari tahun 1001 - 1993, 194 konser di 27 negara.
2. Teach me to have at least a single hobby to do and experience a lot of
fun with it!
Keara, perempuan yang jadi salah satu tokoh dan bisa dibilang tokoh
utama dlm buku ini, diceritakan memiliki hobi fotografi. Once, when Rully
(someone that she loves) ask why, Keara jawab, “Buat gue, foto ini magis, Rul.
Dia nggak perlu bicara, nggak perlu bergerak, bahkan gak perlu berwarna, just a
piece of silent photograph, but it speaks to me. Kayak elo tiba-tiba ditarik
sama lubang hitam, masuk ke peristiwa itu, berada di tengah-tengah mereka, dan
ikut merasakan ketakutan mereka. I just love how a simple picture could tell a
long, complicated story……”
Selanjutnya Keara said, “So you see, if you ask me if I’m happy with my
job right now, well… This is just something I do between weekends….”
Seperti Keara, Rully dan Harris, para tokoh utama dan tokoh-tokoh
lainnya juga diceritakan mempunyai hobi yang sangat kuat melekat di diri
mereka. Keara dan Rully terutama, benar2 bekerja selama weekdays untuk ketemu
weekend dan hobby mereka. Bahkan mereka juga melakukan hobby tersebut di waktu2
yang sudah sangat menjenuhkan buat mereka even its weekdays.
Tiba2 gue berfikir kalau semua orang harusnya punya hobby, apalagi buat
orang2 yg bekerja dengan rutinitas menjemukan. Seenak2nya hang out di weekend,
tetap kita butuh to be solitaire for a moment with just our self. Walaupun hobby
itu harus dilakukan beramai-ramai sepert main bola. Tetap pas main bola, kita
merasakan nikmat tersendiri as a person di group bola tsb.
Buat gue yang punya pekerjaan sangat menarik dan malah gue anggap hobby,
ternyata kalau boleh jujur mengingat, ada masanya gue ingin escape from the
situation yang nggak bisa dilakukan hanya dengan ber-social media seperti yang biasa gue coba.
Ada client gue jg di account-acount social media gw soalnya. Its like, when we’re wanna
scream loudly to release the pain and you can't do that in the middle of crowd unless
u wanna called crazy! lebay banget deh gue! hehe.. but its true.. akhirnya gue pikir gue perlu menggairahkan hidup gue dengan punya hobby. Ketebak pasti hobby
gue apa kan? Baca apa aja sampai ketiduran.. yang akhir2 ini dengan nekatnya gue tambahin ‘menulis’. ;) *sedikitgaktahudiri*
In fact dan tersurat dalam buku ini, that solitaire room calls hobby, bisa bikin kita sejenak lupa kalau kita lagi fallin in love or broken heart.
In fact dan tersurat dalam buku ini, that solitaire room calls hobby, bisa bikin kita sejenak lupa kalau kita lagi fallin in love or broken heart.
3. Teach me just to love…
Pernah kepikir nggak, kalau fallin in love itu nyiksa tapi nikmat? You can
stand any pain when u’r in love! Bahagia hanya dengan hal-hal kecil yg dialami
or dilakukan bersama, like just staring of someone we love from far away, or just
even breathe on the same air. Dan ketika cinta itu or ‘nafsu’ yg kita punya
bersambut, kenikmatan itu menjadi berganda kemudian berkurang pelan-pelan
sampai kemudian habis dimakan waktu dan kejadian demi kejadian yang akhirnya mendapati
kita pada kesimpulan.. I don’t know why I loved her/him!
Hidup Keara overall baik-baik saja selama 5 tahun dia secara diam-diam fallin
in love with Rully, sampai akhirnya Rully ‘sedikit’ merasakan hal yg sama,
mencoba menjalani cintanya yg sedikit itu dengan Keara dan end up di bulan
kedua dengan kenyataan pahit kalau sebenarnya Rully masih in love sama istri
orang, yang padahal jelas-jelas nggak bisa dia dapatkan. 5 tahun compare to 2 bulan? Jelas lebih hebat dari my own story yang 1,5 tahun compare to 6 bulan. But
it still feel sucks anyway!
Hidup Harris mendingan malah. Setelah 5 tahun 2 bulan dia memendam
cinta buat Keara dan pernah melakukan kesalahan besar yang bikin Keara selama
hampir 2 tahun jijik lihat mukanya, Harris end up dengan statusnya dari awal,
yaitu jadi sahabat Keara. Bisa memandang, berdekatan, berbagi dan bernafas di
sekitar Keara ternyata sudah sangat nikmat buat Harris daripada dia harus
mengakui rasa yang dia tahu benar akan menjauhkan dia dari Keara.
Buat gue yg awam banget urusan beginian, this is a very good lesson to love….. keep it
as long as u can! Finally, the destiny will speaks out! Apalagi kalau yang kita tuju
adl orang dengan segudang perbedaan dengan kita.
Ada satu pertanyaan Keara yang sama seperti pertanyan gue 2 tahun yg lalu, “how
can we be so different and feel so much alike?”. Jawabannya juga ada di buku itu. Bukan love is blind…but
love is blinding! Dan ending-nya Keara or me, tepat seperti yang dibayangkan... bubar jalan!
So damn agree with apa yg ditulis di paragraph ketiga hal. 234, “Siapapun
yang bilang time heals all wounds itu perlu dirajam, disilet-silet, dan
dibiarkan kesakitan untuk melihat berapa lama dia bisa menahan rasa sakitnya.” Lets
have LOL! :D
4. Teach me to live my life one day at a time…
Apa yang terjadi pada Keara dan Harris suatu hari di Singapore, has
ruined their very beautiful friendship.
Apa yang terjadi pada Rully dan Keara finally has ruined their beautiful
friendship too.
Gue suka banget sama apa yang Dinda, sahabatnya Keara bilang, “You know
Key, in the end, you just gotta pick your happiness”. “….Kalau lo terlahir
sebagai anjing, jenis kebahagiaan yang bisa lo nikmati itu bisa jadi sepotong
tulang, semangkuk Pedigree, lari-lari ngejar bola di taman, digaruk-garuk perut
lo sama pemilik lo, ngejar-ngejar tukang pos, gigitin sepatu,”, ujar Dinda. “Sebagai
manusia Key, lebih spesifiknya lagi sebagai perempuan…, kebahagiaan yang bisa
kita pilih itu banyak banget. Some come with names, some come with colors, some
come with sizes…”
Kata-kata Dinda menciptakan list panjang di kepala gue! list of
happiness to be picked up and have ‘one day at a time’ meaning to everything I have and will have! At the end, kitalah yang menentukan, dengan cara apa, sama siapa,
bagaimana dan dimana kita mau berbahagia…
And about the love they are and we are all feel… penulis mengutip kata2 David Foster Wallace di
bukunya yg berjudul "This is Water" : awareness of what is so real and essential,
so hidden in plain sight all around us, that we have to keep reminding
ourselves over and over.
Menggunakan perumpamaan ikan dan air, Wallace menungkapkan, rasa dan
keinginan kita sebagai ikan, kadang membuat kita tidak merasakan dingin atau
hangatnya air disekeliling.
For me, kata-kata one day at a time yg gue temukan di buku ini dan
dijelaskan maksud, arti dan penggunaannya dalam kalimat oleh salah satu kakak
gue yang jago banget bahasa Inggris, punya arti tersendiri. Buat gue, one day at
a time artinya.. lets be happy for what we have, feel the love inside, then ask…MAKA
NIKMAT TUHANMU YANG MANAKAH YANG KAMU DUSTAKAN?
Have a happy life everyone! .. and don't forget to read the book! ;)

This comment has been removed by the author.
ReplyDeletenicely written, win. bikin gw pengen baca bukunya dan pengen sering2 baca buku lagi. ehm, pinjem bukunya dong. ehehehe :P
ReplyDeletesiap! gw baru baca nih ada komentar. nanti dibawa kalo ketemuan yaaa... :))
DeleteSuka bgt bc reviewnya:) smuanya benerrr... Hahaa cinta mati sm novel ini. Stlh berthn2 ttp ga ada yg ngalahin antalogi rasa:) tks ya
ReplyDelete