Simply Creative!
Saya selalu menikmati pertunjukan catwalk ala bis kota. Mengamati semangat, teknik dan upaya mereka menjual sesuatu, even cuma suara. Ada juga yang mengganggu pikiran, seperti kehadiran pengemis, orator atau pengamen yang mengeksploitasi anak2 kecil. Tapi pikiran saya yg terganggu sama kehadiran mereka mungkin gak ada artinya dibanding alasan mereka melakukan hal itu. Everyone has a story & a reason why they are the way they are. Don't assume you know it (unknown). Ini quote yang selalu nampar saya kalau dah mulai berkomentar negatif!
Thanks God pagi ini adalah pagi santai dimana saya gak harus sampai kantor jam 9 teng seperti biasa for a reason. So, bukannya naik angkot ke arah Pasar Rebo seperti biasa, saya malah milih naik bis besar favorit. Bis bekas yg ‘nyaris busuk’, impor dari Jepang, yaitu P 45 jurusan Kp. Rambutan - Blok M.
The most ‘sesuatu’ from that bus adalah sirkulasi udaranya yang bagus alias bangkunya tidak padat, jendelanya besar-besar dan langit2nya tinggi. Others, ukuran bangkunya yang manusiawi, ongkosnya yang sangat murah & lalu lalang pedagang dan pengamen yang entertaining.
Pagi ini, pertunjukan pertama adalah penjual koran yang menjual Tabloid Masakan. Sang Penjual begitu pandai menerangkan menu apa saja yang ada di Tabloid tersebut. Sedangkan pertunjukan kedua adalah penjual aksesoris dan benda2 utk keperluan khusus seperti lem serba guna, jarum jahit, peniti, dsb.
Setelah itu berturut-turut pengamen, penjual permen dan lain-lain yang sering saya liat, hanya pemerannya saja yang berbeda-beda. Sampai ada seorang Bapak yang belum tua, mungkin 40 tahunan, berambut ikal dan berkulit gelap khas pedagang jalanan, membagi-bagikan notes alias buku catatan kecil yang dibuat dari sisa-sisa kertas kosong dan cover-nya terbuat dari karton kliping.
Ntah kenapa, menurut saya bapak ini cenderung nekat, karena gak ada yang istimewa dari notes itu maupun tehnik marketing si bapak penjual. Buku catatan sederhana seukuran saku dengan tebal ± 1cm yang ada di tangan saya itu (karena dibagi2kan untuk diliat2), harganya Rp 2.000,- dan saya beli tanpa mikir itu ‘worth’ alias pantas atau tidak.
Saya jadi teringat kata-kata seorang teman yang bilang, “Nafsu yang ada pada manusia, harusnya bikin manusia jadi kreatif” yang kemudian saya artikan jadi.. being creative adalah cara manusia mengendalikan nafsunya.
Belum selesai saya berfikir tentang bapak penjual notes tadi, pertunjukan dilanjutkan oleh pengamen muda yang menyanyikan 2 lagu Ebiet G. Ade paling nampol. Setelah itu, dia nyanyi lagu panggung sandiwara n I thought it was the last. Ternyata, pengamen itu menutup pertunjukannya dgn lagu cinta-nya Koes Plus, “andaikan engkau datang kembaaliii.. jawaban apa yg kan kuberiii…” (lupa judulnya), seperti menutup makan siang sehat bergizi tinggi dengan pudding coklat dan fla yang sedikit berlemak dan maniisssssssss.
Pengamen itu kreatif. Bapak penjual buku catatan itu juga. Penjual tabloid masak tadi juga. Apalagi supir yang pandai memilih jalur ditengah padatnya jalanan. Mereka semua kreatif!
Nggak kayak saya, yg cm bisa bingung, mau ke toko buku yang ada di Mall dan pasti jadi ‘gak cuma’ beli buku atau ke Salon untuk pedicure. Pilihan yang sama sekali nggak kreatif!
Akhirnya saya pilih ke kantor dan menghabiskan sisa waktu santai saya untuk menulis cerita ini sambil merenung, betapa saya masih harus banyak belajar untuk jadi manusia yang kreatif dari orang-orang diluar sana. Bahkan, harusnya saya lebih kreatif , karena saya punya banyak kebisaan, fasilitas dan suasana yang lebih baik dari mereka.
Again n again, I slap my self n asked, “maka nikmat TuhanMu yang manakah yang kamu dustakan?”.
PS : Sayang buku notesnya dah pindah tangan sebelum saya foto.
Thanks God pagi ini adalah pagi santai dimana saya gak harus sampai kantor jam 9 teng seperti biasa for a reason. So, bukannya naik angkot ke arah Pasar Rebo seperti biasa, saya malah milih naik bis besar favorit. Bis bekas yg ‘nyaris busuk’, impor dari Jepang, yaitu P 45 jurusan Kp. Rambutan - Blok M.
The most ‘sesuatu’ from that bus adalah sirkulasi udaranya yang bagus alias bangkunya tidak padat, jendelanya besar-besar dan langit2nya tinggi. Others, ukuran bangkunya yang manusiawi, ongkosnya yang sangat murah & lalu lalang pedagang dan pengamen yang entertaining.
Pagi ini, pertunjukan pertama adalah penjual koran yang menjual Tabloid Masakan. Sang Penjual begitu pandai menerangkan menu apa saja yang ada di Tabloid tersebut. Sedangkan pertunjukan kedua adalah penjual aksesoris dan benda2 utk keperluan khusus seperti lem serba guna, jarum jahit, peniti, dsb.
Setelah itu berturut-turut pengamen, penjual permen dan lain-lain yang sering saya liat, hanya pemerannya saja yang berbeda-beda. Sampai ada seorang Bapak yang belum tua, mungkin 40 tahunan, berambut ikal dan berkulit gelap khas pedagang jalanan, membagi-bagikan notes alias buku catatan kecil yang dibuat dari sisa-sisa kertas kosong dan cover-nya terbuat dari karton kliping.
Ntah kenapa, menurut saya bapak ini cenderung nekat, karena gak ada yang istimewa dari notes itu maupun tehnik marketing si bapak penjual. Buku catatan sederhana seukuran saku dengan tebal ± 1cm yang ada di tangan saya itu (karena dibagi2kan untuk diliat2), harganya Rp 2.000,- dan saya beli tanpa mikir itu ‘worth’ alias pantas atau tidak.
Saya jadi teringat kata-kata seorang teman yang bilang, “Nafsu yang ada pada manusia, harusnya bikin manusia jadi kreatif” yang kemudian saya artikan jadi.. being creative adalah cara manusia mengendalikan nafsunya.
Belum selesai saya berfikir tentang bapak penjual notes tadi, pertunjukan dilanjutkan oleh pengamen muda yang menyanyikan 2 lagu Ebiet G. Ade paling nampol. Setelah itu, dia nyanyi lagu panggung sandiwara n I thought it was the last. Ternyata, pengamen itu menutup pertunjukannya dgn lagu cinta-nya Koes Plus, “andaikan engkau datang kembaaliii.. jawaban apa yg kan kuberiii…” (lupa judulnya), seperti menutup makan siang sehat bergizi tinggi dengan pudding coklat dan fla yang sedikit berlemak dan maniisssssssss.
Pengamen itu kreatif. Bapak penjual buku catatan itu juga. Penjual tabloid masak tadi juga. Apalagi supir yang pandai memilih jalur ditengah padatnya jalanan. Mereka semua kreatif!
Nggak kayak saya, yg cm bisa bingung, mau ke toko buku yang ada di Mall dan pasti jadi ‘gak cuma’ beli buku atau ke Salon untuk pedicure. Pilihan yang sama sekali nggak kreatif!
Akhirnya saya pilih ke kantor dan menghabiskan sisa waktu santai saya untuk menulis cerita ini sambil merenung, betapa saya masih harus banyak belajar untuk jadi manusia yang kreatif dari orang-orang diluar sana. Bahkan, harusnya saya lebih kreatif , karena saya punya banyak kebisaan, fasilitas dan suasana yang lebih baik dari mereka.
Again n again, I slap my self n asked, “maka nikmat TuhanMu yang manakah yang kamu dustakan?”.
PS : Sayang buku notesnya dah pindah tangan sebelum saya foto.
Comments
Post a Comment