"Orang Pintar"..... my version of Guruji on Madre by Dee

Ada yang janggal dari wajahnya, tapi aku tak pernah memberi tahu. Kulitnya yang putih bersih, bibirnya yang merah berkilap seperti dioles gincu dan cara berpakaiannya yang rapih membuatnya seperti anak sekolah dasar. Namun di wajah kekanakannya tercetak pula jejak cambang kehijauan yang membekas setiap dia habis bercukur. Itu aneh. Garis mukaku yang tegas malah lebih pantas ditumbuhi cambang. Tapi hidup terkadang buta menentukan siapa yang layak dan tidak. Ditambah lagi perhatiannya terhadap detail segala sesuatu, kebersihan dan kerapihan. Dia selalu membuatku merasa kurang perempuan.

Ada yang mengganjalku sejak dulu, tapi aku tak pernah memberi tahu. Dulu aku menduganya banci. Dia terlalu ramah dan hangat untuk seorang laki-laki. Berbicara dengannya mengundang sampah hatiku untuk muntah keluar. Sesama perempuan dengan mudah obrolan menjadi pencahar rahasia dan gelisahku. Tapi tidak dengan laki-laki. Dia menelanjangiku tanpa penawar rasa malu. Dan kendati aku ingin menempel padanya seperti benalu, mengisap balik rahasia dan gelisahnya, tetap saja tidak banyak yang aku tuai atau sekedar berimbang.

Ketenangannya, kendalinya atas bahasa dan gejolak emosi, membuatku kurang adab. Kurang manusia.

Di rumahnya yang mungil, aku diterima dengan baik seperti sediakala dan seperti sediakala pula aku menangkap rasa kasihan dalam tatapan keluarganya kepadaku. Tatapan yang berkata, ”Kamu tidak akan dapat apa yang kamu mau Ina!”

Berbeda dengan mereka, Oboy menyambutku dengan tatapan hangat, bersahabat dan penuh kasih. Sebagaimana ia menatapku 1 tahun yang lalu atau lima menit yang lalu.

”Apa kabar mba'? silahkan masuk”, katanya dengan ritme bicara seperti lagu nina bobo. Anggun ia berjalan dan mempersilahkan aku duduk di ruang kluarga. Serta merta keluarganya pun meninggalkan kami melalui pintu belakang, seakan-akan sudah tau aku tidak mau diganggu.

”Saya merasa, tujuan anda, apapun itu, baru bisa tercapai kalau anda bisa berbicara langsung dengan saya,” lanjutnya lagi.

”Bicara tentang apa?”

”Tentang saya, anda dan kita.” nadanya meninggi di ujung kata-kata, selah-olah ia bertanya. Begitulah caranya memindahkan bola. Membuat dirinya seakan-akan menjadi pihak yang seolah-olah memprakarsai pertemuan ini.

Refleks aku melihat ke dalam rumah, memastikan tidak ada orang di dalam sana. ”Oboy – ‘orang pintar’...ini nggak wajar! Memanggilmu saja aku bingung! ” hardikku.

”Anda boleh panggil saya apa saja. Saya nggak akan bingung. Selama hati kamu yang memanggil, aku bisa tahu siapa yang kamu maksud.”

Refleks berikut, tanganku terangkat. Menahan banjiran kalimat bijaknya. ”Stop. Mari kita sama-sama menjadi Ina dan Oboy yang biasa, ok?”

”Memangnya ada yang anda lihat nggak biasa?”

Ingin kucengkeram kerah bajunya, kuguncang-guncang hingga kepalanya membentur-bentur tembok seperti melatih bola basket, dan kuteriakkan ini : ”Aku kangen!”. Manusia yang paling kau rindu ada dihadapanmu dan tetap tidak kau temukan apa yang kau cari. Tidakkah itu membuat siapapun jadi gila?

Setahun yang lalu aku masih bisa mencengkeram bajunya, kadang kulipat dan kumasukkan ke dalam tasnya dengan sopan, kadang brutal. Itu tergantung besaran dan jenis energi yang hinggap, katanya menganalisis aku yang selalu membereskan laci dan bangkunya dari baju-baju yang dia pakai untuk berpeluh ria dari rumah ke kantor. Dan kami bedua selalu berkomitmen untuk pasrah dan manut terhadap apa pun yang kami rasa.

Oboy memang bukan manusia standard. Aku tahu itu sejak kali pertama kami bertemu di tempat kami bekerja. Aku curiga, keberadaannya itu karena dipaksa orang atau ada sisi tertentu. Oboy tampak tidak antusias bekerja disana. Terlihat dari geraknya yang begitu cepat menyelesaikan pekerjaannya, mejanya yang lebih mirip meja anak SMP yang sedang mencari jati diri dan ketertiban-ketertiban lain yang tidak dapat dinilai positif. Dia tidak mau diajak rapat, diskusi dan sejenisnya. Seperti robot. Namun dengan begitu, dia berhasil mencuri perhatianku.

Oboy baru nampak hidup setelah kami melalui beberpa pertengkaran. Dia sudah mulai mau berdiskusi dan seringkali sorot matanya menangkap sorot mataku, bersama kami tenggelam dalam sebuah arus misterius. Sampai pada suatu hari, dengan mantapnya dia berbisik, ”Kamu, telah membuat aku merasa seperti manusia”.

Waktu itu, sejujurnya aku tidak terlalu paham apa yang kurasa, tapi kuputuskan untuk ikut arus itu, dan kubalas ucapannya dengan, ”Akhirnya aku menemukan soulmate-ku!”

Kami tidak berpisah sekalipun setelah itu. Tidak ada hari tanpa pertemuan atau pertukaran suara. Oboy bahkan hadir di rumahku setiap hari libur.

Oboy melihat-lihat dan membolak-balik koleksi bukuku, menjelajahi ruangan demi ruangan, mencela kamarku yang tidak rapih, mengamati foto-foto yang terpajang, bahkan mencicipi masakanku. Lagi, ia bergumam, ”kamu benar-benar menyenangkan. Aku benar-benar merasa hidup.” dan hari-hari berikutnya selama 7 bulan lamanya, dia menjadi penghuni hatiku, perjalanan pulangku dan keluargaku.

Oboy selalu tertarik pada pencarian arti dan makna, di bidang itulah permatanya berkilau gemilang. Kata-katanya yang apa adanya telah mengubah hidup banyak orang. Hanya masalah waktu dia menjadi Oboy yang sekarang. ‘orang pintar’.

Dulu, kami dikenal sebagai partner sejati. Yang satu menenangkan, yang satu merecoki. Dan mereka, para pemuja Oboy si penenang, yang penampilannya santun dan jenaka, memandang jengah kadang iri padaku, perempuan gendut yang disayang oboy lebih dari apapun dan siapapun, setelah ibu dan kakak adiknya. Kalau jawara Gunung kawi jimatnya gelang akar bahar, maka jimat oboy adalah aku. Jadi jangan pernah meremehkan penggembira yang satu ini, cibirku dalam hati.

Hingga tibalah momen yang mereka semua harapkan. Manusia tak ayal ber-evolusi dan hidup ini tak pelak mengubah kanal alirannya, jika memang sudah waktunya. Dan Oboy melakukan itu dengan tiba-tiba, seketika.

Hari itu adalah hari pertama aku bukan lagi teman kerjanya. Saat keesokan harinya aku mulai bekerja di tempat baru, mulai hari itulah Oboy menghilang dari peredaran. Tidak membalas SMS ku, telpon ku, bahkan tidak mau lagi bertemu denganku.

Berbagai alasan dan cara kucoba untuk sekedar mendapat balasan, jawaban atau pertemuan, tetapi tidak ada yang berhasil. Partner sejatiku, jiwaku yang terbelah, menghilang dengan pesan yang sebenarnya sudah jelas, meraih apa yang selama ini dia inginkan. Pergi tanpa satupun bukti kehadirannya, selain beberapa SMS yang tersisa di Handphone.

Keterhubungan kami sudah sampai pada level telepati. Oboy selalu percaya aku mampu tahu isi hatinya tanpa perlu komunikasi verbal. Ia lupa, mengetahui tidak selalu berarti paham dan sepakat. Aku tidak pernah memahami apalagi setuju atas kepergiannya. Lantas, dia mengharapkanku rela?

Tanpa pernah kupahami, apalagi kusepakati, Oboy berubah begitu saja menjadi hantu di duniaku, hantu dalam hatiku. Semua tentangnya kudapat dari tangan kedua dan semua tentangnya tiba apadaku dalam bentuk rekaman dan bayangan.

Jadilah itu sebuah misteri yang perlu kujawab, yang menjadi motor penggerak hidupku setiap hari sejak Oboy pergi : apakah kerelaan bisa lahir tanpa adanya perkawinan lebih dulu antara memahami dan menyepakati?

Pernah ia mendatangiku, membawa obat herbal untuk penyakit lambungku dan kami makan siang bersama. Salah satu menu favorit kami. setelah makan, dia mengeluarkan rokok.

Pada kesempatan itu dia hanya mengatakan, ”Semuanya sudah berbeda. Aku sekarang butuh rokok untuk menemaniku mencari arti dan kamu sudah harus bisa melepaskanku.”

Tanpa bisa menjelaskan rinci, aku tahu persis rokok adalah benda yang haram untuk paru-parunya yang sudah rusak dan aku mengutuk benda itu karenanya.

Mendatangi rumahnya adalah perjudian terakhirku. Upaya maksimalku untuk menjawab teka-teki yang ia tinggalkan bersama beberapa SMS di handphoneku. Sungguh aku tidak perduli dengan apapun lagi, apalagi dengan pintu rumahnya yang tertutup rapat, padahal biasanya terbuka untuk siapapun yang ingin mencari arti. Aku hanya ingin mencari oboy, partner sejatiku, dalam wujud manusia yang mereka sebut ‘orang pintar’ .

Setiap malam kuputar cerita teman-temanku tentang Oboy dan apa yang ia kerjakan dengan nangis tak terkendali. Oboy sepertinya memang sudah tidak ada.

Manusia kurang manusia yang bergelar ‘orang pintar’ itu bukan dia. Jadi, haruskah kerelaan ini kulahirkan paksa? Bagaimana mungkin hidup bisa begitu tidak alamiah? Setiap malam aku membaca pesan-pesan singkatnya dan bertanya-tanya, kapankah bsa kuhapus mereka? Bagian nyata dari oboy yang kini punah.

“Apa yang kamu inginkan dari saya, Mba'?”. ‘orang pintar’ bertanya layaknya pada anak yang memelas minta mainan.

Aku mencoba bertelepati, dan rasanya seperti menabrak dinding. Aku trus mencoba dan mencoba, hingga mataku berkaca-kaca. Bahkan ketenangannya meluruhkan kemampuanku bicara. Siapa kamu? Siapa kamu? Aku berteriak-teriak dalam hati. Air mata mulai berlinangan di pipiku.

Kembali aku menangis tanpa isak, hanya banjiran air yang dipompa mata tanpa bisa disetop. Bedanya, kini aku menangis tidak hanya bertemankan SMS, melainkan hadir langsung di hadapan si empunya yang sudah menggunduli kepalanya licin seperti biksu. Dia, yang dulu sebulan sekali kutemani cukur rambut di salon, kini tak lagi menyentuh tangannya untuk bersalaman.

‘orang pintar’ yang sejak tadi menatapku dengan datar, mulai menunjukkan riak yang kukenal. Beberapa detik ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Seperti tidak mau ketahuan. Hatiku seketika melunjak, dan tanpa berpikir kurengkuh wajahnya, kupelototi kedua matanya, ”Oboy? Apakah itu kamu?”

Sesaat tadi kutemukan gejolak yang familiar. Sesaat tadi kutemukan jejak emosi. Sesaat tadi dia kembali menjadi cerminku. Partner sejatiku. Namun seperti Laut Merah yang terbelah dan tersambung seketika oleh tongkat Nabi Musa, cepat ia kembali tersenyum tipis. Dengan gerakan tenang terkendali dia melepaskan tanganku yang menangkupi wajahnya.

”Mba’, lepaskan saya seperti saya melepaskan anda. Hanya dengan begitu anda nggak pernah kehilangan saya. Anda gak pernah kehilangan apapun,” ucapnya setengah membisik.

”Aku Cuma ingin tahu, mana Oboy? Apa kabar soulmateku? Ke mana saja selama ini? Ratapku.

” Bahkan sedetik yang lalu pun kita bukan manusia yang sama,” jawabnya, tapi mata itu menatap ruang di balik punggungku, bukan menatapku.

”Dulu kamu bilang kita berdua jodoh yang nggak terpisahkan, tapi kenapa sekarang kamu pergi?’

”Yang nyata cuma masa ini, Mba’. Detik ini. Anda nggak akan pernah bisa bebas kalau terus-terusan nyangkut di masa lalu”.

”Munafik!” Dulu kamu yang meyakinkan aku sampai aku percaya semua itu! Sekarang bisa-bisanya suruh melepas!” balasku, tersengal. Isak pun mulai menyusul hadir. Tangisku melengkap.

Kami terdiam. Lama. Hanya isakanku dan embusan napas panjang teraturnya yang menghidupkan ruangan itu.

Perlahan kusadari sesuatu, inilah perpisahan yang kucari. Utang karma kami yang belum lunas. Hantu yang mengejar-ngejarku setahun lebih. Aku hanya ingin mengucap selamat tinggal pada belahan jiwaku yang telah menemukan keutuhannya dalam dirinya sendiri. Aku dan rumahku adalah persinggahan yang harus ia tempuh, tapi bukan untuk ia miliki.

Kakiku pun bergeser, beringsut hendak meninggalkannya. Misteri ini kuanggap usai. Tak ada lagi detektif pengintai. Kamu bebas, Oboy, ‘orang pintar’, siapapun namamu. Kamu bebas.

Namun, tangan halus itu tiba-tiba menahanku.

”Kamu punya lima menit untuk melakukan apa pun yang kamu mau,” ia berkata.

Aku terenyak. Air muka itu....sorot matanya...seperti ada air bah yang menelanku tiba-tiba. Itu dia! Oboy yang kucari ternyata masih ada. Berindung di balik topeng ‘orang pintar’. Atau justru Oboykah topeng yang barusan dikenakannya lagi agar urusan kami tuntas?

Rinduku yang sudah mengerontang bagai Sahara tahu-tahu dibalas dengan limpahan air Niagara. Aku betulan tidak siap. Tubuhku terkunci.

”Apa saja...kamu bisa melakukan apa saja..” bisiknya lagi.

Seketika tanganku melayang, mengambil sebuah bantalan dari hamparan bantal kecil yang mengelilingi kami, dan aku mulai memukulinya. Bertubi-tubi. Oboy tersungkur, tak melawan, tak melindungi diri. Tanganku terus melayang memukulkan bantal, sekuat tenagasekuat segala perasaan yang tersisa, sekuat hantunya yang bercokol di rumah,perjalanan pulang, serta hatiku dan sekarang kuusir pergi.

Tangan kiriku menyambar satu lagi bantal dan kupukuli dia dengan kedua tangan. Habis-habisan. Ia telentang tak berdaya di lantai kayu beralas tikar, pasrah menerima setiap pukulanku. Dan terus kuhujani dia tanpa jeda, tanpa ampun, hingga lenganku tiba-tiba berhenti. Tubuhku mengisyaratkan cukup.

Terengah dan tersengal aku bangkit berdiri. Oboy perlahan juga bangkit, merapikan kemeja linenya yang kusut bukan kepalang dan ia mulai bersila dengan posisi meditasi. Pipinya basah. Beberapa butir air mata masih tersembul dari pelupuknya. Badannya gemetar.

"Permisi", aku menunduk dan memberikan salam dengan menangkupkan kedua telapak tanganku didepan dada.

Ia membalas dengan gerakan serupa. Lalu tangannya membentang, menunjuk pintu, menyilakanku keluar.

Pintu membuka. Kulewati tamu atau ’pasien’ yang mentapku takjub. Mataku yang merah sisa menangis, rambutku yang acak-acakan, bajuku yang kusut masai, tapi ada ketenangan yang tak tertandingi siapa pun sore itu. Tak juga ‘orang pintar’.

Semua ini hanya topeng yang dipakai dan ditanggalkan kapan saja kita mau. Kumusnahkan kedok kami barusan. Kuhancurkan hingga berkeping-keping. Oboy dan Ina dan ‘orang pintar’. Dan kini aku kembali menjadi aku, siapapun itu, aku tak tahu. Aku hidup. Aku utuh. Itu saja...

Comments

Popular posts from this blog

A letter for Sarah Dina Tobing (‘my heart live report’ of maroon5 concert)

PAPUA, SEMENTARA & SELAMANYA

mamaku tercinta...